"Habis ini mau ke mana, Bang?" Suara itu membut aku menatap si penanya tadi. Tadi, Ibuku yang bertanya. Kami baru saja selesai makan malam dengan kepalaku yang sudah tidak sesakit tadi, sekarang aku hanya sedang kepusingan saja memikirkan hal apa yang bisa aku lakukan untuk membuatnya jera dan menangis darah. Waktuku sudah hampir mepet, aku saja sudah kepusingan ini harus melakukan apa. Membakar rumah kurasa bukan menjadi pilihan yang bagus, banyak hal yang harus aku siapkan jika harus sampai membakar rumah ini salah satunya adalah menyelamatakan aset-asetku yang memang tidak banyak tapi itu semua sangat berharga untuk kehidupanku nantinya. "Tidur." Ibuku berdecak, "Tidur terus, mending temenin Mama, mau?" Tadinya, aku sempat akan menjawab malas dengan segera. Tapi kalau kupikir-pikir

