Putra tidak mengatakan apa-apa lagi ketika aku memberitahunya kalau aku ini memang orang yang pendendam dan susah memaafkan orang lain, dia hanya diam dan fokus mengemudikan mobilnya sampai di sini, di tempat dia menyekap Tinje. Letaknya di mana aku juga tidak terlalu tahu, walaupun aku tinggal lama di Jakarta tapi aku tak hapal semua nama daerahnya. Tempat ini bukan seperti gudang yang tak terpakai seperti kemarin, ini sebuah ruko di pasar, aku saja bahkan sempat heran kenapa Putra membawaku ke tempat seperti ini. Aku hanya mengikutinya masuk sampai ke dalam ruko, lalu masuk lagi ke sebuah pintu ruangan di dalam ruko tersebut, ada dua tangga di dalamnya. Tangga yang menghubungkan ke lantai dua dan satu lantai lagi katanya untuk ke lantai dasar yang tidak diketahui oleh si pemilik ruko at

