39. Harapan Bunda

1409 Kata

“Apa lagi?” “Telur gulung belum sama es Melek Tea deh. Itu juga belum.” Zidan hanya mampu menepuk jidat jika membawa Aira ke pasar malam, banyak sekali makanan yang diborong perempuan itu, hampir semua jajanan dibelinya. Ya, meskipun nantinya akan habis juga. Tapi, Aira tuh kalau jajan gak pernah kira-kira, selalu banyak saja. Alasannya sih satu, kan buat semua. Iya, semua, semua yang ada di rumah dihitung oleh Aira agar kebagian jajanan juga. “Yaudah, ayo...” jawab Zidan akhirnya. Aira tersenyum lebar, dia berjalan beriringan kembali bersama Zidan menuju penjual telur gulung. Mengantri, tentu saja. Banyak yang tertarik dengan jajanan yang satu itu. “Ngantri, Ra.” keluh Zidan, dia tak suka mengantri. Aira mengendikan bahunya, mengantri bukan masalah baginya. “Ya, gakpapa. Orang pa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN