Aira mengedarkan atensinya, dia tersenyum lebar saat matanya menemukan Zidan yang tengah duduk di salah satu kursi di perpustakaan, di bagian tengah ruang perpustakaan ini. Kakinya melangkah menghampiri Zidan dan langsung duduk kemudian memangku wajah didepan Zidan. Zidan menatap perlahan Aira, dia menaikkan sebelah alisnya melihat Aira yang kini menunjukkan senyumnya. “Kenapa, Lo?” tanya Zidan, dia mengerutkan keningnya. Aira menunjukkan deretan giginya. “Mau anterin gue, gak?” tanya Aira, dia mengulum bibirnya, mengangguk-angguk berharap Zidan langsung menjawab iya. “Anterin kemana?” “Ke suatu tempat,” “Ya, kemana? Kan tempat juga ada namanya.” Aira menegakkan tubuhnya, dia bersandar pada sandaran kursi. “Ke tempat latihan Benny,” jawab Aira, dia masih menunjukkan senyumnya

