Semalaman suntuk Aira memikirkan ucapannya pada Zidan, dia merasa menyesal telah mengucapkan itu. Apalagi melihat respon yang diberikan Zidan, tak ada protes ataupun penolakan yang diberikan Zidan dan justru hanya anggukan dan jawaban singkat mengiyakan yang membuat dirinya uring-uringan. Pagi ini saja, Aira ragu hanya untuk datang ke rumah Zidan. Berkali-kali pun dirinya mengurungkan niatnya masuk, berniat pergi lagi. Namun, untuk kesekian kali niatnya yang hendak pergi diurungkan saat namanya dipanggil. “Ra, kenapa berdiri di situ? Ayo, masuk! Kita sarapan bareng-bareng.” Aira tersenyum kikuk, dia mengangguk dan segera menghampiri Bunda Zidan yang berkata demikian. Bunda Zidan langsung merangkul Aira, membawanya masuk menuju ruang makan dimana sudah ada Ayah dan Zidan disana tengah

