“Saya masuk, ya, mbak.” “Iya, den. Tapi, jangan ditutup, ya pintunya.” Zidan mengangguk saja, dia berjalan memasuki kamar Aira. Sedangkan, Mbak Kiki kini sudah beranjak pergi. Diliriknya jam dinding tersebut, sudah larut malam. Dia sengaja datang ke kamar Aira jam segini, niatnya memang seperti itu. Zidan mengentikan langkahnya, atensinya tertuju pada Aira yang kini sudah memejamkan matanya, perempuan itu sudah tertidur pulas sambil memeluk erat bantal guling. Zidan tahu semuanya, dia sudah mendengar semua penjelasan Aira pada bundanya. Rasanya dia terlalu bodoh, lagi-lagi menyakiti Aira dengan ucapannya. Padahal dia tak berniat menyakiti perempuan itu, dia hanya cemas saja yang membuatnya sampai tak sadar berkata demikian. Sebenarnya alasannya utamanya karena dia marah melihat Ai

