“Kenapa sih semua orang kayak gitu? Seakan mereka tuh mikir, gue berubah karena Zidan punya pacar.” Ya, meskipun iya. Batin Aira melanjutkan. “Tapi, kan gue gak sejahat itu juga kali. Rebut Zidan dari Jihan yang notabenenya adalah teman dekat gue. Gila aja kalau gue lakuin itu.” Aira menyalakan keran air, kemudian mencuci tangannya disana. Ditatapnya dirinya sendiri lewat pantulan cermin dihadapannya. Hingga matanya teralihkan pada seseorang yang baru saja keluar dari salah satu bilik toilet. Aira menatap datar wajah yang kini tersenyum sinis padanya. Dia menatap dirinya dan orang itu lewat cermin, orang itu kini berdiri disampingnya, ikut mencuci tangan juga. “Gue pikir, Zidan sukanya sama Lo. Tapi, ternyata enggak.” Aira mengacuhkan, seakan tuli. “Ternyata Jihan yang Zidan

