Aira berlari cepat, memilih berteduh disalah satu halte bersama orang-orang yang sama sepertinya, kehujanan. Hujan turun begitu saja, meskipun Aira sudah memprediksi akan turun hujan saat melihat langit mendung tadi. Dia tak menemukan tukang ojek pangkalan satupun sepanjang jalan, berkahir dia harus berjalan kaki sejauh ini. Aira melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir menjelang magrib. Sedangkan, dia masih dijalan juga, terjebak hujan yang sejak deras. Tak ada uang, baterai handphone habis, tak ada yang bisa dihubungi akhirnya, ditambah dia tak menemukan satupun tukang ojek pangkalan. Nikmat sekali hari Aira ini. Rasa dingin mulai menusuk kulitnya, bibirnya sudah bergetar menahan dingin, sedang tangannya tak henti-henti mengusap lengan atasnya, berharap ada sedikit kehang

