11. Putus Asa

522 Kata
POV Erlangga Seperti disambar petir disiang bolong mendengar apa yang disampaikan oleh Pak Hardi. Tapi aku hanya bisa diam. Segera aku tinggalkan rumah itu dengan berjuta rasa kehancuran hati ini. Impian yang sudah kurajut selama ini hancur berkeping keping. Hati rasa perih. Sampai dirumah pun aku tetap terdiam tanpa mampu berkata. walau kedua sahabatku selalu memancing untuk aku berbicara. Tapi rasanya mulut ini masih 3nggan bicara. Sampai mereka bosan sendiri. *** " Aah kepalaku pusing sekali" keluh Erlangga, saat bangun dari tidurnya karena silau matahari dari celah jendela kamarnya. Kepalanya terasa pusing akibat effek alkohol semalam yang masih tersisa. Dengan malas dia berajak kekamar mandi. Erlangga menatap wajahnya dicermin, terlihat kacau sekali. Kembali dia memejamkan matanya saat kembali terngiang kejadian semalam. Tangannya mengepal dan tubuhnya bergetar, saking emosinya dia menghantamkan tinjunya pada cermin tersebut. Pranggggggggggg....... Suara yang berisik membuat kedua sahabat Erlangga berlarian menuju kamarnya... " Ngga....Angga...." Keduanya berhamburan menuju kamar mandi. Erlangga masih membeku ditempatnya. Tangannya masih tetap pada posisi semula. Darah mengucur dari jari - jari tanganya. Pecahan kaca bertebaran dimana- mana. " What are you doing guesss....." teriak Andri, sambil mengamankan tangan Erlangga . " Haaaaaa.....pecah dong kacanya" pekik Agung sambil melongo. " Hai.. kaca pecah loe pikirin. nih bantuin gue ambilin kotak P 3 K" bentak Andri jengkel. Si Agung terkesan lebih sayang sama barang ketimbang sahabatnya. " Iya..iya.." Sahut Agung sambil bersungut-sungut karena bentakan Andri. " Please Ngga, kalau ada apa- apa lue cerita sama kita, jangan lue Pendem sendiri. Kita masih sahabatan kan" omel Andri sambil tanganya terus membersihkan luka di tangan Erlangga dan mengoleskan obat anti infeksi. " Perih enggak" tanya Andri. " Lebih perih rasa dihatiku" sahut Erlangga. Andri dan Agung hanya bisa diam. " Gung bisa tolong ambilkan handphone" tanya Erlangga mengambang. " Ok" sahut Agung kemudian berlalu ke meja depan TV. " Nih " sambil mengansurkan handphone ke Erlangga. Begitu menerima handphone Erlangga langsung melakukan panggilan suara. " Hallo.." sapa orang dari seberang. " Hallo pa...saya setuju dengan tawaran papa untuk menikah dengan Erika. Segera papa Urus semuanya. saya tidak mau sibuk untuk urusan itu. Dan laksanakan pernikahan Minggu depan sebelum saya berubah pikiran." kata Erlangga panjang lebar. Tanpa menunggu jawaban dia langsung mengakhiri sambungan telepon tersebut. " What Erika......" Pekik Andri saking kagetnya. " Apa tadi ya..apa gue sudah budeg kali ya..." kata Agung sambil menggelitik telinganya sendiri. Pertanda dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. " Gue serius." sahut Erlangga dingin dan tegas. Andri dan Agung hanya saling pandang masih tak percaya rasanya. Tapi keduanya tidak mau banyak tanya. Dalam keadaan seperti ini tak kan sedikitpun Erlangga akan bicara. Itulah watak Erlangga yang sudah dihafal oleh mereka. " Ok..semoga lue tidak akan menyesal...Well..gue cabut dulu mau kerja...Gung lue tetep disini, gue masih khawatir.." katanya kemudian sambil menepuk punggung Erlangga dan kemudian menatap ke Agung. " Ok siap brooo..." sahut Agung. " Dan jangan lupa bersihin pecahan kaca, dan buatkan dia sesuatu didapur ya..." sambil nyengir. " Yaelah..kan bisa lue pesenin online...ribet amat sih..." sergah Agung saking jengkelnya. " Hahahaha..." tawa Andri membahana dan langsung melenggang keluar. tak urung membuka handphone dan memesan makanan untuk dua sahabatnya secara online.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN