Dua Puluh Dua : Jahatkah?

1382 Kata

"Nda yakin mau pulang sekarang? Kalau ini soal sekolah, Ayah bisa bilang ke wali kelas Nda." Aku yang sedang membereskan kamarku hanya bungkam mendengar Ayah yang mencoba membujukku. Lho, memang kenapa aku harus terus di sini? Aku masih punya banyak keperluan di kota. Aku berbalik menghadap Ayah. Ayah pasti merasa khawatir karena beliau tidak bisa menemaniku. "Nda yakin, yah. Lagian, kan liburan ada waktunya. Tapi bukan sekarang." Seraya melipat selimut yang kupakai semalam, aku bertanya, "Ayah mau pulang kapan?" "Mungkin besok atau lusa. Soalnya Ayah harus ngurusin rumah makan Bunda." Alisku bertaut. Sejak kami masih di sini, Bunda memang bikin rumah makan kecil-kecilan. Seingatku namanya Rumah Makan Adinda. Semenjak kami pindah, rumah makan itu diteruskan oleh tetanggaku yang dulu ju

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN