Sabrina bangkit dengan perasaan diselubungi ketakutan. Dia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi. Dia berjalan ke dapur mencari air putih untuk menengkan dirinya.
Itu hanya mimipi, Sabrina. Gumamnya pada diri sendiri.
Leon tidak mungkin berniat membunuhnya. Leon bukan pria bengis. Dia bahkan selalu memperlakukan Sabrina dengan baik dan penuh perhatian. Tidak bisa dipungkiri mimpi itu seakan nyata dan sangat mengerikan.
Sabrina ingin menelpon seseorang, tapi dia bingung siapa yang akan ditelponnya. Leon, ada Alena. Oliv, dia pasti sudah tidur nyenyak. Nadia, Erik mereka juga pasti sedang tidur. Varell... entah kenapa malah nama itu yang terngiang di telinganya.
Jangan.
Sabrina menggeleng.
Akan aneh jadinya kalau dia menelpon Varell di pagi buta begini. Lalu dia menceritakan soal mimpi itu. Tidak, tidak.
Sabrina memilih ke ruang tamu dan menonton televisi. Itu lebih baik daripada dia harus tidur dengan dibayangi mimpi mengerikan dari Leon.
***
Minggu pagi ini bersinar terang seterang perasaan Nadia dan Erik. Mereka mendatangi apartemen Sabrina dan menarik-narik Sabrina agar bangun dan berlari pagi ini.
“Diet.” Ujar Nadia.
“Sehat.” Timpal Erik.
“Berisik kalian! Aku tidak mau lari.” Kata Sabrina yang enggan bangun meski kedua sahabatnya terus menerus menarik kedua lengannya.
Ponsel berdering. Nadia mengangkat ponsel Sabrina dan tertera nama di layar Varell.
“Siapa Varell?” tanya Nadia dengan dahi mengernyit.
“Varell?” Sabrina bangkit. Sejenak berpikir untuk apa Varell menelponnya di pagi hari?
“Varell bukannya anak dari Ferry ya. Adik Leon?” komentar Erik. Nadia dan Erik tahu soal hubungan Sabrina dan Leondan hanya pada mereka Sabrina percaya bahwa sahabatnya tidak akan membuat namanya jatuh dan menyebarkan soal hubungannya dengan Leon.
Sabrina agak kebingungan mendapati kedua sahabatnya menatap dengan curiga.
“Sab, kamu tidak menjalin hubungan dengan Varell juga kan?” tanya Nadia dengan tatapan curiga sekaligus mengancam.
“Tidak, Nad. Dia bosku. Sekarang Varell menggantikan posisi ayahnya.”
“Tapi dia menelponmu? Ini hari minggu lho, Sab.” Erik mengingatkan.
“Aku tidak tahu, mungkin urusan pekerjaan.”
“Angkat nih,” Nadia menyodorkan ponsel ke arah Sabrina.
Sesaat Nadia dan Erik saling memandang curiga.
“Halo,” sahut Sabrina.
Merasa tidak nyaman dengan tatapan kedua sahabatnya, Sabrina memilih keluar dari kamar.
“Lagi di mana?”
“A-apa?”
“Lagi di mana?” ulang Varell.
“Ada apa?” Sabrina bertanya balik tidak mengerti.
“Aku mau ke apartemenmu.”
“Jangan. Di sini ada sahabatku dan aku tidak mau memperpanjang masalah kita.”
“Bukan. Aku hanya ingin membahas hal lain, soal pekerjaan.”
“Kenapa harus hari minggu.”
“Lebih leluasa tanpa ada gosip yang beredar.”
“Aku tidak bisa.” Sabrina memutuskan untuk menolak keinginan Varell.
“Kenapa?”
“Aku ada urusan hari ini.” Tanpa menunggu Varell membalasnya, Sabrina langsung mematikan ponselnya.
Sabrina tidak mengerti tentang jalan pikiran Varell. Pria itu selalu berubah-ubah dalam waktu singkat. Terkadang dia seperti pria pada umumnya dan terkadang dia mengerikan layaknya zombie. Dia pria aneh yang entah bagaimana mulai membuat Sabrina memikirkannya. Sabrina takut kalau Varell berusaha mendekatinya karena ingin balas dendam pada kakaknya. Dendam karena Leon merebut Alena.
Sabrina kembali ke kamar dan melihat kedua sahabatnya menatap dengan tatapan curiga. “Soal pekerjaan.” Agaknya alasan itu tidak membuat Nadia dan Erik percaya begitu saja.
“Ayolah, Varell sudah punya pacar.” Dustanya.
“Oke, mari kita berolahraga!” seru Erik.
“Diet!” seru Nadia.
“Sehat!” timpal Erik.
Dan mereka kembali berusaha membuat Sabrina mau berolahraga khususnya lari. Padahal Sabrina paling membenci olahraga lari.
***
“Kenapa?” tanya Leon menatap Sabrina dengan kecewa.
“Aku sudah tidak sanggup menjalani hubungan seperti ini.” Sabrina membuang wajah, menatap kosong dinding ruang tamunya. “Kamu tidak memberiku kepastian apa-apa. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku tidak bisa terlalu lama menunggu.”
“Sab,” Leon menyentuh sebelah bahu Sabrina. “Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu.”
Sabrina menggeleng. “Tidak, Leon. Cinta tidak seperti ini.”
Leon menatap Sabrina frustrasi. “Kamu mau bagaimana, aku akan mengusahakan semuanya, Sab.”
“Aku ingin mengakhiri semua ini. Lupakan tentang kita, lupakan semua hal yang pernah terjadi antara aku dan kamu. Aku hanya ingin itu.” Sabrina memejamkan mata. Terlalu berat baginya untuk mengatakan perpisahan pada Leon. Dia masih mencintai pria itu. Entah pria itu benar-benar mencintainya atau tidak, dia selalu mencintai Leon melebihi dirinya sendiri. Ya, kalau dia tidak benar-benar mencintai Leon, tentunya Sabrina tidak akan mau menjadi kekasih gelap Leon dan menyandang status yang merendahkan dirinya dalam kehidupan sosial.
Hening.
“Aku tidak mau,” Leon akhirnya bersuara.
“Kenapa?”
“Karena aku mencintaimu.”
“Aku harus memilih Leon, aku harus memilih demi hidupku. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun—“
“Termasuk mengorbankan kebahagiaanmu?” sela Leon. Sabrina menatap bola mata meneduhkan Leon. Dia menatap lama mata itu.
“Aku tidak bahagia, Leon. Aku tidak akan pernah bahagia di atas rasa sakit wanita lain.”
Leon mengecup lembut bahu Sabrina. “Alena tidak mencintaiku, begitu pun aku.”
Sabrina terdiam seakan apa yang didengarnya hanyalah halusinasi. “Apa maksudmu?”
“Belum saatnya aku menceritakan semuanya. Aku hanya mencintaimu.”
“Kenapa?” tanya Sabrina tak mengerti. “Kalau kalian tidak saling mencintai kenapa kalian menikah dan Alena memiliki anak darimu?”
“Sab, bukan saatnya aku ceritakan semuanya.” Ujar Leon santai dan seakan yakin kalau Sabrina akan mengurungkan niatnya untuk berpisah.
Leon kembali mengecup lembut bahu Sabrina. Kecupan itu terus menerus dilakukannya hingga sampai di leher Sabrina. Sabrina memejamkan mata menikmati kecupan dari bibir Leon. Ya, dia kembali gagal. Dia lemah. Cinta membuatnya payah. Dia membiarkan Leon melepaskan baju yang dikenakannya.
***
Orang yang paling genius pun akan terlihat bodoh ketika dia mencintai seseorang. Di mana apa yang dilihatnya dari orang itu adalah keyakinan dan cinta. Sabrina sadar bahwa dia berada di level ketololan dan kebodohan karena tidak bisa menolak sentuhan Leon. Kemarin, Nadia kembali berpesan agar Sabrina meninggalkan Leon. Sesegera mungkin. Sayang, Sabrina gagal. Dia malah memilih menghabikan malam bersama Leon hanya karena ucapan Leon mengenai dirinya dan Alena yang tidak saling mencintai.
***