BAB 7

1054 Kata
    Varell meminta Sabrina ke ruangannya. ketika Sabrina sampai dia mempersilakan Sabrina duduk. Varell memandang Sabrina seolah dia ingin mengatakan  sesuatu yang intens. Yang entah kenapa membuat Sabrina tidak nyaman  dan merasa tegang.      “Tadi pagi kamu menelponku soal pekerjaan. Ada apa?” tanya Sabrina hati-hati.      “Ya, itu hanya soal pekerjaan saja. Tapi, ya, sudahlah.” Varell menatap layar laptopnya. Dia tidak menatap Sabrina.      “Ayahku besok akan datang ke kantor untuk mengucapkan perpisahan. Minggu depan dia akan dilantik sebagai  menteri.”      Sabrina menatap kosong meja. Dia merasakan kesedihan yang mirip seperti dia kehilangan ayahnya 8 tahun lalu.  Seakan Ferry adalah ayahnya sendiri. Ya, Ferry sangat baik bahkan terlalu baik sebagai atasan Sabrina.       “Besok juga adalah pengukuhan saya sebagai direktur tetap di RFO.”      Sabrina mendongak, menatap Varell.      “Tidak ada yang berhak memindahkan kamu selain saya. Jadi, kalau Leon berusaha memindahkanmu dia tidak akan bisa. Aku yang berhak.”      Varell tersenyum dingin seakan merasa menang.      “Dan satu lagi, kalau aku melihat Leon ke apartemenmu lagi, aku akan mengatakannya pada ayah. Biar ayah yang mengurus kalian berdua.”      “Jangan!” Sabrina refleks menolak.      “Jangan katakan pada Pak Ferry. Aku tidak ingin mengecewakannya.”      Varell mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi jahat. "Ya, karena kamu tahu betapa ayahku percaya padamu, aku minta kamu menjauhi Leon. Dia memiliki istri. Kamu tahu kan betapa sangat kecewanya ayahku kalau  tahu kamu adalah simpanan Leon.”       Sabrina menelan ludah.      “Kalian hebat juga bisa mneutupi hubungan gelap selama lebih dari satu tahun. Bisa bagi trik dan tipsnya?"  dia tersenyum mengejek.      Sabrina ingin berkata kasar dan menampar pipi bosnya dengan sangat keras. Tapi, dia selalu bisa mengendalikan emosinya.Tapi dia selalu bisa mengendalikan emosinya. Meskipun penamparan yang akan dilakukannya tidak akan  membuat Varell mengadu pada orang-orang.     Tapi, tetap saja Sabrina masih menghargai Varell walaupun pria itu seakan tak pernah menghargainya dan bahkan  enggan untuk menghargainya.  ***     Alena mengenakan gaun tidur warna putih menerawang. Dia menggerai rambut ombrenya yang selalu sempuran.  Menghampiri Leon yang sedang duduk di tepi ranjang dengan jari sibuk memainkan ponselnya.      Alena duduk di samping Leon. Dia membasahi bibirnya dan memegang pundak Leon. Leon menatap Alena. Paham akan kemauan Alena. Leon meletakkan ponselnya di atas meja kecil di samping tempat tidur. Dia mendekati bibir Alenadan mereka melakukan french kiss. Cukup lama hingga Alena baru menyadari kalau gaunnya turun hingga ke  bagian d**a.       Varell menatap taburan bintang lewat jendela yang gordennya sengaja dibuka. Dia menatap dengan kesendiriannya karena sakit hati yang belum juga terobati. Dulu, dia berencana menikahi Alena, tak peduli bagaimana nantinya, dia  hanya ingin hidup bersama Alena hingga saat itu tiba ketika dengan mendadak Leon mengumumkan akan menikahi  seorang gadis bernama Alena di hadapannya dan kedua orang tuanya.     Awalnya Varell menyangka hanya nama yang sama hingga dia meminta nama lengkap beserta foto wanita itu dan,  ya, dia Alena—    kekasihnya. Varell sangat terkejut hingga menyangka bahwa terjadi gempa bumi yang mendadak membuatnya  pusing. Otaknya lumpuh, dia terduduk lemas. Dia langsung menghubungi Alena dan Alena membenarkan permintaan Leon.      Pertanyaan pertama yang diluncurkan kedua daun bibir Leon setelah mendengar kebenaran dari mulut Alena adalah ‘kenapa?’ dan sampai sekarang alasan pernikahan Leon dan Alena menjadi sebuah teka-teki yang belum terpecahkan. Keduanya enggan memberikan pernyataan seakan Varell tidak berhak mengetahui  alasan kakaknya menikahi Alena. Sialnya, Varell memang tidak pernah menceritakan soal Alena ataupun membawa Alena ke rumah orang tuanya sehingga mereka semua tidak tahu.     Tapi Varell yakin Alena tahu kalau Leon adalah kakaknya.       “Suatu saat nanti kamu akan menyesal, Leon.” Ucapnya ketika Leon keukeuh untuk menikahi Alena.      “Tidak, Varell. Kamu tidak mengerti.”      “Kamu yang tidak mengerti! Jangan pernah menganggapku sebagai adikmu. Kamu bukan kakakku. Kamu dan Alena...” Varell mengepalkan tangannya dan meninju dinding hingga tangannya kesakitan namun, rasa sakit yang dirasakan tangannya tak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan hatinya.      Ketika kamu begitu menyayangi seseorang dan dia memilih berkhianat dengan orang lain, kamu akan mengerti bagaimana perasaan  Varell. Dia terluka terlalu dalam hingga bertahun-tahun lamanya pun dia masih membenci Leon dan Alena.     Dunia tidak menjual obat sakit hati hingga dia sendiri yang harus menyembuhkan lukanya dengan kesendirian yang sampai sekarang telah menggenapkan luka hatinya.  ***      Sabrina mengenakan tas kulit produk lokal dan dress vintage motif bunga. Rambutnya dikuncir kuda. Erik seperti biasa selalu berpenampilan necis dan Nadia tampil kasual dengan sepatu keds warna putih yang dibelinya kemarin. Mereka memesan caffe latte. Erik terlihat antusias karena dia baru saja mendapatkan pacar baru yang berporfesi sebagai model.      “Body-nya, uhhh!” seru Erik bersemangat menceritakan soal pacar barunya.      Nadia menempelkan jari telunjuknya di jidat. “Temanmu lagi sinting.” Seru Nadia.      Sabrina terkekeh geli. “Ya, namanya juga dimabuk cinta.”      “Memangnya kamu yakin dia juga mencintaimu, Rik.”       “Yakinlah,” seru Erik dengan tatapan mata tak terima dengan pertanyaan Nadia.      “Oke, kita buktikan saja sampai kapan kamu bisa menjalin hubungan dengannya.”      “Nadia sirik, deh.” Erik mencolek dagu Nadia.      Nadia menatapnya dengan tatapa teguran.      Setiap Erik menjalin hubungan dengan wanita biasanya hanya bertahan selama hitungan bulan bahkan harian. Erik tipe pria yang cepat bosan dan cepat jatuh cinta lagi. Dia pernah mengencani wanita yang usianya terpaut jauh 12 tahun.      Erikjuga pernah menjalin hubungan dengana anak SMA. Dia adalah penjelajah asmara dari semua golongan dan  semua usia. Nadia selalu menasehati Erik agar mencari kekasih yang bisa diajak serius. Tapi, sahabatnya malah hanya  hanya ingin bermain-main saja. Ya, sejak perkataannya tidak dianggap Erik, Nadia terlihat kesal dan sebal setiap kali Erik  menjalin hubungan baru. Berbeda dengan Nadia, Sabrina lebih memberikan kebebasan pada Erik. Bagi Sabrina, Erik sudah dewasa dan dia tentu sudah paham akan semua konsekuensi sama seperti dirinya.      “Aku rasa kita perlu membuat sayembara untuk Nadia, Sab.”       Erik menoleh pada Sabrina seakan tidak peduli tatapan mengerikan dari Nadia.      “Sayembara apa?” dahi Sabrina mengerut.      “Sayembara untuk menjadi pacar Nadia, biar dia tidak iri kalau aku punya pacar baru.” Erik terbahak. Mau tidak mau Sabrina juga ikut terbahak.      “Erik, aku single dan happy. Always.” Kata Nadia menegaskan.      “Tapi wajah kamu selalu mengekspresikan kesepeian, Nad.” Erik tersenyum mengejek.      “Dasar, kuranga ajar.” Semprot Nadia.      Sabrina dan Erik tertawa sampai suara yang tak asing menyapa telinga Sabrina.      “Kamu di sini?” refleks, Sabrina menoleh dan mendongak untuk melihat wajah seseorang yang berdiri di sampingnya.      Sabrina terkesiap.      Varell.  *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN