“Coba dulu, Chef.” Lagi, Maira semakin memajukan sendok tepat di depan mulut Bara. Bara membuang wajah asal sejenak, sebelum akhirnya menghela napas, dan menerima suapan Maira. Bibir Bara menyentuh sendok itu, kemudian menyeruput kuah seblak yang dari aromanya saja sudah jelas rasanya pasti pedas. Maira menatap lekat-lekat Bara dengan wajah yang penuh harap. “Gimana?” tanya Maira menarik sendoknya. Lidah Bara mengecap-ngecap sebentar, lidahnya seakan memutari seluruh rongga mulutnya. Bola matanya melirik ke kanan dan ke kiri. “Chef. Ini bukan kompetisi masak.” Ucap Maira sedikit menahan tawanya. “Kamukan tanya gimana rasanya? Jadi saya harus benar-benar mencerna setiap detailnya lah.” Jawab Bara selalu mencoba tak ingin kalah. Maira hanya mengangguk-angguk sambil kembali mengaduk seb

