“Selamat datang..” suara seseorang menyambutnya terdengar berbeda di telinga Bara. Bara mendekat ke sumber suara. “Ada yang bisa dibantu, Kak?” tanya gadis dihadapannya yang memakai ID Card bertuliskan nama Dinda Maharani. “Em.. Maira..?” “Maira?” Dinda membeo dengan kedua alisnya yang berkerut. “Iya. Mairanya ada?” tanya Bara sedikit menengok kea rah belakang Dinda. “Maira hari ini tidak masuk, Kak. Tadi izin kalau sakit.” “Apa? Maira.. sakit?” Bara setengah terkejut. “Iya, Kak.” “Oh.. baik kalau begitu. Terima kasih.” “Iya, sama-sama.” Bara kemudian berbalik, membasahi sedikit bibirnya. Lalu dengan langkah pasti melangkah kembali masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama, Bara sudah berhenti di depan kontrakan Maira. Kontrakan Maira terlihat begitu sepi. Tidak ada tanda

