“Maira!” seru Bara. “Eh.” Maira langsung terkesiap. “Em..” Maira menarik tangannya, lalu menunduk sambil berdehem beberapa kali. Jangan ditanya bagaimana keadaan jantungnya saat ini. Jelas berdebar bahkan serasa ingin lepas dari tempatnya. Maira terlihat sibuk dan gelisah, menoleh ke kanan dan ke kiri seakan sedang mencari sesuatu. “Chef. A-Aku, aku.. duluan.” Maira hendak membuka kenop mobil, namun pergerakannya terhenti tatkala Bara kembali bersuara. “Kamu mau kemana, Mai?” Maira tertegun, matanya menunduk melihat tangannya. “Ma-Mau, pulang, Chef.” “Jalan kaki? Sendirian? Setelah bahaya yang baru aja kamu alami?” cerocos Bara. “Em..” Maira gugup, kini membenarkan posisi duduknya, menatap ke arah depan sambil menunduk. Bara masih menatap Maira dengan tatapan yang tak bisa diart

