Malam turun perlahan, menggelayut di atas kota dengan kilau lampu oranye yang menari di kaca jendela gedung-gedung tinggi. Selena keluar dari studio dengan langkah pelan, masih membiarkan gema suara Theodore terpantul di telinganya. "Jika kau ingin aku menuntunmu, izinkan aku benar-benar menyentuhmu." Kalimat itu masih bergema, seperti bisikan di balik tengkuk yang menolak hilang. Selena menghela napas panjang. Hari ini... berat. Tapi bukan hanya karena adegan atau latihan yang melelahkan, melainkan karena dirinya—jiwanya—seolah tercungkil dan dipaksa ditaruh di meja, dihadapkan pada seseorang yang mulai membaca tanpa izin. Ia tidak ingin pulang. Apartemennya akan terlalu sunyi, dan sunyi bukanlah sahabat yang baik ketika pikiran terlalu bising. Jadi ia mengeluarkan ponsel dan menekan

