Sejak kecil Emma selalu mendapat makian dari ayah kandungnya. Setiap lelah, dirinya yang disalahkan. Setiap Mia melakukan kesalahan, dirinya yang dimaki. Namun ibu Emma selalu mengajarinya untuk bersabar, menunggu waktu supaya hati sang Ayah mau dibuka. Emma selalu menunggu momen itu, tapi semakin dirinya dewasa- semakin tergerus harapannya dan makian itu menjadi makanan sehari-hari. Dan sekarang sang ayah menyumpahi dia- hatinya sudah mati. Hugo menarik mundur Emma hingga ke belakang dan melindunginya. Dia mulai paham, alasan Emma tidak akan pernah mengakui pernikahan di depan orang tua. Harga diri. "Minggir! Biar aku hukum anak tidak tahu diri itu!" Bentak ayah Emma sambil menunjuk putri sulungnya dengan marah. "Aku mengeluarkan banyak uang demi dia, tapi balasannya sungguh menyakitk

