Berhenti

1245 Kata
"Amanda?" sapanya dengan nada canggung. Paras cantik itu menatap Miko sekilas dan kembali fokus pada layar persegi di hadapannya. "Mau bengong sampai kapan?" Miko segera mendudukkan dirinya ketika mendengar gumaman menusuk dari Amanda yang lebih seperti mengatainya mirip orang linglung. "Anu.. saya minta maaf karena membuat anda menunggu lama. Terjadi sedikit masalah di lokasi dan-" "Tidak masalah. Gue juga gak peduli lo dateng apa ngga." selorohnya menyela penjelasan Miko. Pria itu tanpa sadar mendengkus kesal dan menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan rasa kesal yang mulai membakar. "Kalau begitu, gue langsung aja. Jujur gue cukup tertarik dengan naskah yang lo buat dan karena itu gue ngajak lo ketemu buat diskusi soal proses penggarapan. Kita akan mulai ambil gambar dua minggu lagi, gue perlu-" "Gue udah kasih kuasa penuh ke pihak produksi soal naskahnya. Lo bisa otak-atik sesuka hati tanpa perlu konsultasi ke gue. Dewo gak bilang?" selanya yang kali ini diiringi tatapan merendahkan yang berhasil menyulut emosi Miko. "Gila. Baru ini gue ketemu orang sesongong ini." gumam Miko takjub dengan paras cantik bermulut pedas di hadapannya. Pandangannya berpaling kemana saja asal bukan kepada sosok Amanda yang membuatnya luar biasa canggung dan tertekan. Miko bukan orang yang mudah diintimidasi tapi bersama Amanda membuatnya merasa tercekik. Sial. Tercekik membuatnya kembali mengingat Risa. Double sh*t. "Gue udah oke dengan kontrak yang diajukan Dewo, satu-satunya alasan gue terlibat dalam proses produksi cuma kalau ada kerancuan atau adegan menjadi mustahil untuk diadaptasi." jelas Amanda yang masih menganggap Miko berada dalam layar kaca di hadapannya. "Sorry, gue gak tau udah bikin lo nunggu lama atau kesal karena apa... tapi bisa nggak lo ngomong sambil natap orang yang diajak ngomong? Punya etika, kan?" Miko tersenyum miring merasa puas berhasil mengembalikan serangan setelah dibabat habis oleh kalimat menohok Amanda. "Gue gak mau denger soal etika dari orang yang terlambat tiga jam padahal dia yang ngajak ketemuan." jawab Amanda kali ini menatap lurus ke manik pekat Miko sambil tersenyum manis, menambah kesan menyebalkan. "Lo sendiri yang bilang gak peduli gue datang atau nggak, sekarang lo ngungkit masalah gue telat? Jangan kayak cewek deh, lo!" Miko yang kehilangan kendali kemudian terhenyak dengan ucapannya sendiri. Amanda yang sedari tadi terlihat pongah kini berubah kaku. Wajahnya memerah dan mengeras untuk sebuah alasan yang membuat Miko ingin memaki diri sendiri. Beruntung dering telepon menjadi pelebur ketegangan di antara dirinya dan pria berambut perak sebahu tersebut. "Ya, bunny.. apa? Lo udah telepon Jhoan? Gue ke sana sekarang." Amanda menjawab panggilan itu sembari terus menancapkan pandangannya pada Miko yang bergerak gelisah. "Sorry. Gue-" kata Miko menggantung begitu saja sebab Amanda segera pergi setelah menutup panggilannya. Miko mendesah frustrasi dan mengacak rambutnya dengan kesal. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aksa Mandala D lebih terkenal dengan nama A.Man.D yang kemudian disederhanakan menjadi Amanda, Amandi, atau Amande. Masa bodoh, katanya. Kesuksesan yang menyilaukan di usia muda tidak hanya membawa kepuasan bagi pria 30 tahun tersebut tapi juga menimbulkan ketidaknyamanan sebab sosoknya yang terlalu tertutup justru menarik perhatian. Ada begitu banyak penghargaan yang ia dapatkan sejak mulai berkarya belasan tahun silam tapi media masa nyaris tidak memiliki satu pun potret dari seorang Aksa. Setiap kali harus mendatangi acara resmi ia selalu diwakilkan oleh stafnya. Begitu juga wawancara dan kepentingan lainnya, semua dilakukan secara tertutup. Aksa bukannya benci kamera dan semacamnya, dia bahkan terbilang cukup narsis dengan ratusan foto selca yang ia simpan di galeri. Namun satu-satunya yang ia izinkan untuk dikonsumsi publik hanyalah karyanya. Membiarkan dirinya terkekspos sama saja dengan terbunuh untuk kali kedua. Ada banyak luka yang harusnya tidak lagi ia kenang, tapi berkat Miko, mau tidak mau Aksa kembali pada kenyataan bahwa masa lalu akan terus mengejarnya. 4 jam sebelumnya... “Yo, apa yang bakal lo lakukan kalo Naya ada rasa sama Dimas? Lo tau sendiri mereka dulu hampir-” “Gue sibuk.” Aksa tergelak. Pria di hadapannya terlihat tidak suka dengan pertanyaan yang dia lontarkan. “Bucin, lo! Gue cuma nanya seandainya. Lagian gak mungkin juga Naya suka sama Dimas.” Pria yang sedari tadi sibuk mengotak-atik benda persegi panjang dalam genggamanya itu melirik Aksa yang tampak belum menyelesaikan kalimatnya. “Eh, tapi bisa aja sih. Kalo seorang Rio yang sekelas Arjuna gak bisa menaklukan hatinya, mungkin Naya emang seleranya yang anak baik-baik macem si Dimas.” Rio melemparkan tisu bekas di atas meja ke dalam cangkir kopi Aksa yang masih terisi setengah. Pria itu berencana akan mengusir Aksa jika Aksa tidak segera menghentikan omong kosong dan tawanya yang memekakkan telinga itu. “Gak sopan lo sama abang ipar!” rutuk Aksa masih dengan cengengesan yang samar. “Mbak ipar selingkuh?” tebak Rio begitu menyadari tingkah aneh Aksa. Kakak iparnya itu sangat jarang membahas sesuatu yang berlandaskan angan seperti andai dan jika. Aksa terdiam setelah mendengar kecurigaan Rio. “Dia bukan orang yang mampu untuk selingkuh, lo tau sendiri.” jawabnya yang diiyakan Rio. “Tapi orang lain mungkin bakal ngerebut dia dari gue.” Aksa meringis membayangkan apa yang diucapkannya kepada Rio barusan. Terdengar bodoh. Rio ikut terdiam. Pikirannya juga menuju kepada seseorang begitu mendengar perkataan Aksa. Dua pria dewasa kurang beruntung dalam percintaan itu terjebak bersama dengan perempuan yang diragukan kepemilikan perasaannya. “Bah! Ganggu orang kerja aja, lo.” Rio yang sadar bahwa dirinya sudah termakan omongan Aksa kemudian meminta pria tersebut untuk meninggalkan ruang kerjanya dengan alasan masih memiliki banyak kesibukan. “Lo bakal nyesel kalo ketemu mantannya Naya yang sebenernya!” seru Aksa sembari berdiri dari sofa. Ruang kerja Rio yang didominasi warna abu-abu itu mengingatkannya pada mantan kekasih sang adik. Rio spontan meraih lengan Aksa, mendesak sang kakak ipar untuk menuntaskan ucapannya. Aksa menyeringai ketika mendapati tatapan penasaran yang gagal ditutupi oleh Rio. “Nanti  saja kalo lo-gak-banyak-kesibukan.” sindirnya penuh penenkanan membuat Rio mendengkus. Gelak tawa Aksa kembali memenuhi ruangan ketika Rio menghempaskan tangannya bersama umpatan. Karena tidak memiliki banyak teman, Aksa selalu memanfaatkan kelemahan suami adiknya itu untuk bersenang-senang. Walaupun terasa menggelikan, Aksa harus mengakui bahwa Rio adalah salah satu kesayangannya. Di tengah kesibukannya yang tidak begitu diketahui orang banyak, Aksa selalu menyempatkan untuk menjenguk Rio di ruang ‘tahanan’ sekaligus ‘pelarian’nya itu. “Gak asik ah, ngambekan kek kambing. Hari libur bukannya santai malah ngerodi.” sungutnya tatkala Rio kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan yang sempat tertunda. “Bego banget gue. Pergi lo!” “Nyenyenye!” cibirnya membalas umpatan Rio. Langkah Aksa yang akan meninggalkan Rio terhenti di depan pintu. “Mantannya Naya... husbu* sejuta umat yang lo bakar pas SMA dulu!” serunya sembari menutup pintu sebelum benda-benda di meja kerja Rio melayang. Menggoda Rio telah menjadi aktivitas rutin bagi Aksa, sejak mengetahui bahwa adik iparnya itu kesulitan menghadapi sang istri, Aksa memutuskan untuk membantu Rio walaupun bantuan yang ia berikan sering disalahpahami sebagai keusilan semata. Senyum lebar yang ia pamerkan ketika menjahili Rio menghilang begitu pintu besi itu tertutup. Perasaannya kembali hampa dan pikirannya kembali dipenuhi dengan antisipasi. Aksa menatap layar ponselnya, membaca kembali riwayat chat semalam yang terinterupsi oleh panggilan Risa. Mau makan siang bareng? Sekalian bahas Laberinto. Sudut bibirnya tertarik ke belakang, dengan gerakan cepat jari-jari Aksa mengetikkan pesan balasan dan menonaktifkan ponsel setelahnya. “Mas? Mas Aksa!” panggil seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari pintu ruang kerja Rio. Aksa menghela napasnya dengan berat sebelum akhirnya berbalik menghadap pemilik suara yang tiba-tiba mengusik perasaannya. Perempuan itu tersenyum senang melihat Aksa, tangannya menggantung di udara ketika niat memeluk Aksa terhenti oleh suara lirih pria berambut perak sebahu tersebut. “Berhenti di sana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN