"CUT!"
Desahan dan erangan frustrasi menggema dalam ruangan seluas 36m persergi usai teriakan memekakkan telinga itu kembali menyela proses pengambilan gambar.
"Dia kenapa sih? Heran!" umpat sang tokoh utama yang mulai kesal. Syuting sudah berlangsung berjam-jam tanpa henti hanya untuk pengambilan adegan sederhana yang entah kenapa menjadi masalah besar bagi sutradara muda yang tengah mengusap kasar wajahnya dengan frustrasi.
"Biasanya dia tidak begitu." bela seorang kru produksi yang bertugas untuk menyiapkan set.
"Baru menang penghargaan sekali aja udah songong banget." Kru yang mendengar itu pun hanya bisa menggeleng pasrah. Tidak ada yang bisa dibela dari seorang Miko saat ini. Sikap kurang profesionalnya kali ini membuka lebar-lebar celah untuk dihujat. Pasalnya, Miko meminta agar adegan minum teh kotak yang harusnya selesai dalam maksimal 2 jam menjadi jauh lebih rumit.
"Lo kenapa, bro? Masalah di rumah ya tinggalin di rumah." ujar asisten director yang menghampiri Miko. Ia membawakan sebuah teh kotak dingin sembari menyimak hasil tangkapan adegan. Miko menghela napas dengan gusar. Ia merutuki dirinya yang kehilangan fokus sehingga berkali-kali mengacaukan proses pengambilan gambar.
"Sorry. Bisa gue minta lo yang urus ini? gue kacau banget rasanya." Miko menepuk bahu Krisna, asisten yang hari ini memang bertugas mendampinginya menyelesaikan pengambilan adegan untuk sebuah iklan komersil. Miko meninggalkan lokasi syuting sembari meminta maaf kepada semua kru yang ia lewati. Perasaan bersalah semakin mendesaknya untuk segera menghilang karena menyadari kekacauan yang ia ciptakan telah mempersulit banyak orang.
Risa. Satu-satunya sebab dari semua kompleksitas yang Miko alami saat ini. Dari dulu memang hanya Risa yang bisa membuatnya ambyar tak tertolong. Itulah alasan mengapa walau sangat ingin berjumpa lagi dengan pemilik surai legam tersebut, Miko memilih untuk menghindar. Melihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana perempuan itu tersenyum, meringis, bahkan menangis nyaris membuat bagian terdalam dari diri Miko meledak. Terlalu marah untuk banyak sebab.
"Lo kenapa?" Pertanyaan itu kembali mengudara setelah Krisna berhasil menyusul Miko di ruang istirahat.
"Beres?" jawab Miko membalik pertanyaan. Kemarahannya saat ini tidak hanya kepada Risa yang seenak jidat muncul di hadapannya dengan berbagai ekspresi menyesakkan tapi juga kepada dirinya sendiri yang gagal menjadi baik-baik saja setelah berpisah dengan Risa kemarin sore. Dengan tidak tahu dirinya Miko terjaga semalam suntuk untuk memikirkan perempuan itu dan berakhir sia-sia hingga merusak kredibilitasnya sebagai sutradara.
"Yakali gue telantarin. Lo mikirin apa sih? Pinangannya mas Dewo? Gue denger penulisnya cantik banget. Awas aja kalo lo gak ngajak gue di proyek itu." seloroh Krisna mencoba memperbaiki suasana hati Miko dengan sedikit candaan.
Miko tersenyum miring. Sepertinya dia harus melakukan konsultasi ke ahli hipnotis untuk menghilangkan pikirannya yang terus disabotase oleh bayang-bayang Risa. Melupakan janji temunya dengan penulis naskah "Laberinto" yang merupakan proyek besar impiannya adalah tamparan keras kesekian yang Miko terima hari ini.
"Sorry. Gue mulai gila kayaknya. Selesai editing rencananya baru mau konfirmasi lagi ke mbaknya. Thanks buat yang tadi. Kapan-kapan gue traktir makan enak, deh." ujarnya setengah meringis membayangkan 'kapan' yang ia maksud kepada Krisna. Pria itu lebih dulu sadar makna dari kapan-kapan tersebut. Miko melirik arlojinya sekilas kemudian pamit untuk menyelesaikan proses penyuntingan.
Sebelum memasuki ruang editing, Miko terlebih dahulu menghampiri para kru dan artis yang masih berada di lokasi untuk meminta maaf. Sebagai sutradara muda yang baru menjajakan kakinya dalam dunia perfilman 5 tahun silam, nama Miko cukup dipertimbangkan. Ia tidak ingin orang-orang salah mengira bahwa keberhasilannya membawa pulang 3 piala sekaligus dalam ajang penghargaan beberapa bulan lalu membuatnya pongah dan semena-mena hari ini.
"Nona Debora, izinkan saya meminta maaf. Saya mengacaukan semuanya." ujar Miko ketika menghampiri seorang artis yang tengah bersiap-siap meninggalkan lokasi syuting tersebut.
Debora tidak langsung menjawab, ia menelisik secara intens dan terang-terangan menilai sutradara muda di hadapannya. Rambut berantakan, pakaian kusut, wajah kusam dan pikiran yang sering hilang fokus. Kacau.
"Lo dikejar deb kolektor? Sakau? Ngobat? Kurang ancur tuh penampilan." sindirnya mengabaikan permintaan maaf Miko. Pria itu mendesah dan mengusap wajahnya sebelum mengangguk pelan.
"Yah, semacam itu." Miko melirik jam tangannya. "Gue beneran minta maaf. Setelah ini lo kosong?"
"Masih ada pemotretan untuk wawancara, kalo mau ngajak kencan... gue bisa bolos." tebak Debora dengan tatapan menggoda. Miko tergelak dan mengibaskan tangan di udara.
"Masih terlalu cepat. Gue ada janji sama yang lebih cantik setelah ini, tadi cuma basa basi." candanya yang dihadiahi tinju oleh dara cantik berparas campuran Jerman-Sunda itu di bagian perutnya. Miko bertingkah seolah pukulan itu sangat sakit dan membuat mereka tergelak geli bersama.
"Lo ngeselin banget, sumpah! Tapi kalo lo janji ngajak ngedate, mungkin bisa gue revisi lagi kesan pertama dibimbing seorang Miko Sujaya yang membahana ini." Debora merapikan rambut Miko yang mencuat di sana-sini dengan alami, mengabaikan puluhan pasang mata yang menatap lapar ke arah mereka.
"Gue gak tertarik dengan drama skandal yang ada di kepala lo saat ini. Jadi, cari saja mangsa lain, oke?" Miko meraih tangan halus Debora yang menggantung di udara, menggenggamnya lembut dan melepaskannya perlahan. Tatapannya masih terlihat lembut meski apa yang terucap jelas menyakiti perasaan perempuan itu.
Debora meloloskan desahan pasrah seraya menyembunyikan raut kecewa. Ini bukan kali pertama Miko menolak perasaannya atau mengatakan kata-kata menyakitkan seperti sekarang. Harusnya Debora menyerah, entah sebab apa sehingga perempuan yang digilai banyak pemuda itu justru memilih menebalkan muka dan terus berusaha.
"Lo terlalu keras kepala." gumam Miko mengusap puncak kepala Debora pelan sebelum meninggalkannya dan beranjak ke ruang editing yang berada di sebelah lokasi pengambilan gambar.
Setelah mengacaukan proses syuting, Miko harus membayarnya lewat proses penyuntingan yang saat ini ia lakukan bersama tim editor. Beruntung kali ini Miko berhasil menguasai pikirannya dan membuat kerja keras tim produksi tidak sia-sia. Hasilnya membuat pihak produser merasa puas dan kerja sama untuk proyek selanjutnya semakin bulat.
"Lo jadi ketemu sama Manda?" sela Dewo selaku produser yang bertanggung jawab untuk proyek pembuatan iklan komersil garapan Miko di tengah pembahasan mereka tentang hasil syuting hari ini. Miko mengendikkan bahunya sembari mengamati hasil penyuntingan lebih detail.
"Doi belum bales chat gue lagi sejak semalam. Denger-denger dia agak batu soal kerja sama pas eksekusi." Miko bergumam seraya melirik Dewo yang juga meliriknya. Walaupun sering mendengar nama Amanda sebagai penulis naskah dengan karya yang rajin melejit, sesungguhnya Miko masih sangat minim informasi tentang sang penulis yang digadang-gadang akan memborong piala penghargaan selanjutnya dalam festival penghargaan tahun depan.
'Laberinto' adalah karya teranyar milik Amanda bergenre Romance-Thriller yang akan digarap bersama Dewo dan Miko, telah lebih dulu tenar sebagai w******l yang membanjiri linimasa media sosial dan aplikasi baca tiap pekannya selama dua bulan. Kesuksesan inilah yang mendorong pihak produksi meminang naskah tersebut guna diadaptasi menjadi film layar lebar. Miko tentu saja sangat tertarik karena menggarap karya seorang Amanda terkenal rumit dan menantang.
"Lo temui aja dulu si Manda. Gue no comment." tutup Dewo menyudahi tahap finishing bersama Miko dan meninggalkan adik kelasnya itu keheranan seorang diri. Miko kembali mengecek aplikasi chat, di sana terpatri sebuah pesan yang masuk sekitar 3 jam lalu dari username A.Man.D. Matanya membelalak terkejut sekaligus panik bak orang kesetenan, Miko bergegas menuju lokasi yang tercantum dalam pesan tersebut.
Napasnya berdesakan tidak teratur ketika tiba di sebuah kafe tidak jauh dari lokasi syuting. Miko mengedarkan penglihatannya ke penjuru tempat guna menemukan sesosok manusia rumit bernama Amanda tersebut. Akhir pekan dan sore hari menjadi saat terlarang untuk mengadakan janji temu di cafe karena saat itu adalah saat puncaknya para pemburu dollar sejenak melepaskan diri dan berteberan menikmati jeda dari kesibukan.
Setelah berdiri seperti orang hilang selama lima menit di depan pintu masuk, Miko memberanikan diri menghampiri seseorang yang duduk di pojok kanan cafe yang ia duga sebagai Amanda. Awalnya ia sedikit ragu, mengingat hanya orang itulah yang sibuk bergelut dengan laptop di saat yang lain asyik bergumul ria dengan kawan dan pasangan, Miko akhirnya memilih nekat bertanya.
"Amanda?"
...