Aksa tidak pernah menyangka bahwa ia akan menginjakkan kakinya di rumah itu sekali lagi. Rumah yang tidak pernah ia harapkan menjadi tempat kembali. Segera setelah kesehatannya pulih, ia meninggalkan kediaman Keluarga D dan menempati rumah pemberian ibunya. Rumah yang dikatakan sebagai hadiah untuk pengorbanan Aksa mendonorkan ginjalnya. “Mas, kamu serius?” Kanaya menatap Aksa dengan gusar. Ekspresinya yang selalu datar itu terlihat begitu kalut. “Saya tidak ingin terlibat dengan keluarga gila ini. Pengacara saya sudah mengurus semuanya. Saya harap kalian tidak akan pernah melibatkan saya apa pun masalahnya nanti.” tuturnya tanpa mengindahkan pertanyaan Kanaya. Aksa hanya menatap lurus kepada seorang wanita paruh baya yang duduk jauh di depannya. “Bahkan setelah mengeluarkan seluruh pem

