Bab 09

1390 Kata
Dua bulan kemudian. “Huek,” “Huek,” Semalaman Zaskiya terus memuntahkan isi perutnya. Ia bahkan tidak bisa tidur karena perutnya terus mual. Ia bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan cairan bening yang keluar dari mulutnya. Zaskiya menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi. Tubuhnya terasa begitu lemas karena semua isi perutnya sudah ia muntahkan. Ia mengelus perutnya berharap tidak lagi muntah. “Huhh, apa yang terjadi denganku?” gumamnya Zaskiya memejamkan mata untuk menenangkan dirinya sejenak. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang membuat jantungnya seketika berhenti berdetak. Ia membuka mata sembari meremas perutnya. “Nggak mungkin!” ucap Zaskiya sembari menggeleng pelan “Aku harus memastikannya.” Zaskiya keluar kamar mandi berniat untuk mengambil sesuatu. Ia ingin memastikan apa yang dipikirkan hanyalah ketakutannya saja. Setelah mendapatkan barang yang dicari ia kembali masuk ke dalam kamar mandi. Buru-buru ia memakainya meskipun jantungnya berpacu cepat karena takut. “Nggak! Hal itu nggak boleh terjadi.” gumam Zaskiya Beberapa menit kemudian. “Huhh,” Zaskiya mengusap wajahnya kasar. Ia takut untuk melihat hasilnya. Dengan ragu-ragu dan takut Zaskiya memberanikan diri mengambil alat tersebut untuk melihat hasilnya. Jemarinya terlihat gemetar karena takut hasilnya tidak sesuai apa yang ia harapkan. Dan… Deg Tubuh Zaskiya mematung setelah melihat hasilnya. Jantungnya seketika berhenti berdetak, nafasnya tercekat, ada kemarahan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia melihat dua garis merah di testpack tersebut. “Positif!” lirihnya “Nggak! Nggak mungkin aku hamil.” Zaskiya melempar testpack tersebut ke tempat sampah yang ada di dekatnya. Ia meremas rambutnya frustasi. “NGGAK MUNGKIN!” “Aarrgghh,” teriaknya Brak Zaskiya melempar peralatan mandi yang berada di dekatnya ke sembarang arah. Nafasnya memburu dan tidak beraturan. Kedua tangannya terkepal kuat, wajahnya memerah karena amarah. “Nggak mungkin aku hamil!” Zaskiya menunduk lalu meremas perutnya. Ia tidak mau mengandung selain anak dari Naufal. Ia yakin janin di dalam perutnya bukan anak dari Naufal, melainkan dari mantan kekasihnya. Zaskiya masih ingat karena terakhir kali ia berhubungan dengan mantan kekasihnya. “Sial!” umpat Zaskiya “Bagaimana kalau janin ini bukan anak Naufal?!” Zaskiya meluruhkan tubuhnya ke lantai sembari berpikir apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia tersenyum ketika sebuah rencana terbesit di kepalanya. Zaskiya mengelus perutnya sembari tersenyum smirk. “Untuk apa aku takut? Aku bisa mengakui janin ini anak dari Naufal. Lagipula Naufal tidak tahu aku pernah berhubungan dengan siapa saja.” gumam Zaskiya “Aku akan mengatakan hal ini pada Naufal, dan meminta pertanggung jawaban darinya.” “Aku yakin Naufal tidak akan menolak, apalagi merahasiakan hal ini. Jika Naufal tidak menikahiku aku akan bilang pada semua orang tentang siapa diriku sebenarnya.” Zaskiya tersenyum bahagia. Ia yakin rencananya kali ini pasti berhasil. Bukan Zaskiya namanya jika gagal dalam melakukan sesuatu. Ia tahu bagaimana Naufal menjaga nama baiknya serta nama baik keluarganya di hadapan semua orang. “Aku akan memberitahunya malam ini juga.” *** “Ya Allah, ada apa dengan kepalaku?” gumam Cahaya Sejak kemarin kesehatan Cahaya menurun, kepalanya terasa pusing, bahkan nafsu makannya terus berkurang. Cahaya bangun dari baringnya berniat membuat makanan untuk suaminya. “Awss,” ringis Cahaya sembari memegangi kepalanya “Huhh,” Ketika ingin berdiri tiba-tiba perutnya terasa mual. “Huek,” Cahaya menutup mulutnya. “Astagfirullah. Aku kenapa?” Cahaya duduk sejenak, dan setelah cukup mendingan ia berdiri lalu melangkah keluar kamar. Ia harus membuat makanan untuk suaminya. Meskipun Naufal bukan suami yang baik, hal tersebut tidak membuat Cahaya lalai akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Cahaya menguatkan dirinya meskipun ia ingin tumbang. Kepalanya semakin pusing, bahkan berulang kali ia ingin terjatuh. Setelah selesai memasak Cahaya menghidangkan semua makanannya di atas meja. Sejak beberapa menit yang lalu Naufal sudah menunggunya di meja makan. Meskipun melihat wajah Cahaya pucat tidak terbesit rasa khawatir sedikitpun di hatinya, bahkan ia bersikap dingin dan cuek ketika Cahaya ingin terjatuh. “Astagfirullah, kepala aku!” gumam Cahaya Dan… Pyarr “Aakkhh,” teriak Naufal “Astagfirullah.” Cahaya terlonjak kaget akibat teriakan suaminya. Seketika rasa sakit di kepalanya hilang begitu saja. “APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN?” bentak Naufal “Kak, a-aku nggak sengaja. Aku…” Brugh “Aargghh,” pekik Cahaya Belum selesai Cahaya bicara Naufal lebih dulu mendorong tubuhnya sampai membuat Cahaya jatuh tersungkur ke lantai. Cahaya meringis kesakitan sembari memegangi perutnya. Kaki Naufal tidak sengaja terkena tumpahan makanan yang dibawa olehnya, hal itu membuat Naufal reflek mendorong istrinya. Kepala Cahaya terasa begitu sakit membuatnya hilang kendali. “Sshh,” ringis Naufal “BODOH!” bentak Naufal Untuk ke dua kalinya Cahaya melakukan kesalahan yang membuat Zaskiya dan Naufal terluka. Naufal menghampiri istrinya lalu mencengkram rahang Cahaya dengan kuat. Ia menatapnya tajam. “Awss, sakit!” ucap Cahaya “Kamu benar-benar ceroboh sekali! Lihat, karena perbuatanmu kakiku terluka.” desis Naufal dengan tajam “M-maaf, kak! Cahaya nggak sengaja melakukannya.” ujar Cahaya dengan suara bergetar menahan tangis “Maafmu tidak ada gunanya.” “Ck,” Naufal menghempaskan wajah Cahaya tanpa belas kasihan sedikitpun. Naufal meninggalkan istrinya di ruang makan masih dengan posisi duduk di lantai. Moodnya hancur seketika akibat perbuatan Cahaya, bahkan nafsu makannya seketika hilang begitu saja. Cahaya menatap kepergian suaminya dengan perasaan kecewa. Semakin kesini sifat dan sikap Naufal semakin buruk padanya, bahkan tidak ada rasa khawatir sedikitpun. Dengan tega Naufal mendorong tubuh istrinya sampai jatuh tersungkur, padahal dia mengetahui kondisi Cahaya sedang tidak stabil, bahkan Cahaya telah bersusah payah membuatkan makanan untuknya. “Astagfirullah’haladzim.” lirih Cahaya “Tolong berikan kesabaran serta kuatkan hati Cahaya, Ya Allah.” “Bismillah,” Cahaya mencoba berdiri dengan berpegangan meja makan. Ia menguatkan diri untuk tetap sadar meskipun rasanya ingin jatuh pingsan. Di sisi lain, Naufal berulang kali mengumpati istrinya karena kecerobohan Cahaya. Kakinya terasa panas dan memerah akibat tumpahan makanan yang dibuat istrinya. “s**t!” umpat Naufal “Perempuan bodoh!” “Dasar ceroboh! Bukan hanya sekali dia melakukan kecorobohan seperti ini.” Naufal tidak berhenti menggerutu karena rasa sakit dan panas yang ia rasakan. “Kak Naufal!” panggil Cahaya “UNTUK APA LAGI KAMU MENEMUIKU, HA?” bentak Naufal Cahaya memejamkan matanya kuat ketika mendapat bentakan dari suaminya. Ia tahu dirinya bersalah, maka dari itu ia ingin mengobati luka di kaki suaminya. Cahaya menunduk dalam. Di tangannya terdapat sebuah kotak P3k untuk mengobati suaminya. “Maaf, kak!” cicit Cahaya “Maafmu tidak bisa langsung menyembukan luka di kakiku.” “—“ Cahaya memilih diam. Ia berlutut di hadapan suaminya lalu menaruh kaki Naufal di pangkuannya. Perlakuan Cahaya membuat Naufal terenyuh, bahkan ia tidak percaya dengan perbuatan istrinya. Naufal sudah membentak Cahaya untuk ke sekian kalinya, namun hal itu tidak membuat Cahaya takut untuk mendekatinya. Ia justru bertanggung jawab atas perbuatannya. Cahaya mengobati luka di kaki Naufal dengan pelan dan hati-hati karena takut semakin melukai suaminya. Tanpa Cahaya sadari Naufal menatapnya dengan tatapan lekat, bahkan enggan untuk mengalihkan pandangannya. “Cahaya minta maaf, kak! Cahaya nggak sengaja melakukannya.” “Kepala Cahaya sakit sejak tadi malam. Maaf, karena kecorobohan Cahaya membuat Kak Naufal terluka.” ucapnya “—“ tidak mendapat jawaban dari Naufal membuat Cahaya mendongak, dan seketika tatapan mereka bertemu. Deg.. deg.. deg Jantung Naufal tiba-tiba berdebar kencang ketika menatap mata indah milik istrinya. Wajah cantik Cahaya sekaligus mata indahnya membuat hati Naufal bergetar ketika menatapnya. “Ada apa dengan jantungku?” batin Naufal bertanya-tanya Di balik tatapan Cahaya tersimpan banyak harapan di dalamnya. Ia berharap banyak pada rumah tangga yang ia jalani saat ini. Cahaya selalu berdoa agar Allah meluluhkan hati suaminya. Ia ingin menjalani bahtera rumah tangga seperti pasangan pada umumnya. “Sampai kapan Kak Naufal seperti ini? Cahaya ingin dianggap, Cahaya juga tidak ingin ada orang ketiga di rumah tangga kita. Sampai kapan kita menjalani rumah tangga seperti ini?” batin Cahaya berucap Naufal mengakui kecantikan istrinya, tapi entah kenapa kebencian selalu muncul di hatinya ketika berada di dekat Cahaya. Ia sangat membenci perempuan itu, namun kali ini ia merasakan hal yang berbeda dari biasanya. “Ekhm,” dehem Naufal sembari mengalihkan pandangannya Naufal menarik kakinya dari pangkuan Cahaya. “Pergi sana!” ujar Naufal Cahaya mengangguk pelan. “Sekali lagi Cahaya minta maaf, kak! Kalau Kak Naufal butuh sesuatu panggil Cahaya!” dan setelah itu Cahaya melangkah pergi meninggalkan suaminya. Naufal menatap kepergian istrinya dengan tatapan sulit diartikan. Ia memegang dadanya yang masih berdebar kencang. “Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdebar seperti ini?” gumamnya •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN