“Meski mati sekali pun, itu lebih baik dari pada berdiam diri melihat kejahatan.”—Hear Saber. . . . Aichi, 2043 Sorot mata Ravell masih sama seperti yang saudara-saudaranya tahu. Pria berkulit cokelat gelap itu selalu menatap dengan dingin seakan tak ada hal yang ia khwatirkan di sana. Yuuki secara spontan segera maju, menghalangi Sang Pembunuh melihat Rei. Melihat ancang-ancang itu, Ravell mendengkus. Di dalam hatinya, lelaki itu sungguh tak ingin diperlakukan demikian. Ia bukanlah bom yang akan meledak tiba-tiba, bukan juga orang gila yang akan menyerang siapa pun tanpa sadar. Maka, dengan santai, Ravell berjalan mendekati kedelapan anak-anak Harold yang berkumpul di kamar rawat Hear itu. “JIka kalian masih takut akan kehadiranku, kenapa meminta bantuan?” tanya sang Pembunuh

