Fanny menghembuskan napasnya dengan kasar. “Terserah kau saja. Urus saja dirimu sendiri,” ujar Fanny. “Ibu menyetujui pernikahanku, kan, Bu?” “Sampai kapanpun, Ibu tidak akan pernah setuju!” “Bu, ayolah. Istriku juga sama sepertimu, Bu. Sama-sama berasal dari Hindia Belanda,” ujar Larry berusaha membela diri. “Hentikan! Jangan pernah berkata bahwa aku berasal dari Hindia Belanda!” Entah mengapa Fanny begitu membenci jika dirinya disebut berasal dari Hindia Belanda. Fanny beranjak dari duduknya dan pergi meningalkan Larry. Larry sendiri hanya menundukan kepalanya. “Singkirkan anak itu dari sini!” teriak Fanny dari lantai dua. Teriakan itu pun terdengar oleh Amanda yang sedang berada di dalam kamar. Amanda hanya menutup kedua kupingnya dengan tangannya lalu memejamkan matanya ketak

