Gentleman

1290 Kata

Mereka keluar dari kelas berombongan dengan anak-anak lain, tapi kemudian Aren menyempal di ujung koridor. “Ntar aku nyusul ke kantin,” kata anak itu pelan. Nada mengangguk. Ia lalu berlarian menyusul Karin dan Ratri, yang pastinya juga akan berlabuh ke tempat yang sama. “Aren mau ke mana?” Ia menoleh. Seketika tak jadi lari. Ada Nathan menjajarinya. “Dipanggil Bu Siwi, persiapan lomba debat berikutnya.” “Ini mau ke kantin, kan?” Nada mengangguk. “Mau ini?” Nada mendelik ketika sebentuk benda batangan dalam pembungkus kertas merah gelap yang berdesain sangat elegan menutupi hampir seluruh pandangan matanya. “Apa ini?” “Cokelat lah. Masa kayak gitu namanya kemiri?” “Buatku?” “Iya.” Nada menerimanya dengan ragu. Pasalnya, bentuk dan merek cokelat itu tak biasa terlihat di sekit

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN