Nada membuka pintu yang terbuat dari besi baja luar biasa tebal itu. Saat tiba di dalam, ia sama sekali tak melihat dinding ruangan. Hanya ada kegelapan sempurna. Dan di tengah sana, dalam cahaya lampu redup 5 watt berwarna kekuningan, tampaklah Om Gading, duduk di kursi dengan kedua tangan dan kaki terikat. Wajahnya bengkak dan penuh lebam, seperti habis dipukuli warga satu kelurahan! Matanya membelalak saat melihat siapa yang datang. “Nad! Nada! Tolong! Ini aku di mana? Lepaskan! Lepaskan!” seru pria itu sambil meronta. “Akan aku lepaskan,” Nada tiba tepat di depan Om Gading, dan membuka tangan tempat di telapaknya terdapat sebentuk kunci emas berkilauan. “Tapi jawab dulu pertanyaanku!” Om Gading mengangguk-angguk. “Ya, ya. Akan aku jawab. Yang penting segera lepaskan aku dari sini!”

