"Kenapa Paman bisa tahu apa yang ada dalam pikiran Sofia? Baru saja tadi Sofia bilang ke Eno kayak gitu, Cil."
"Ya, udah. Sofia makan dulu!"
Acil MIna pun menemaninya. Tak lama, derap langkah Paman Botek terdengar menuju arah mereka. Sofia langsung menoleh ke arahnya, dengan pandangan yang serius.
"Paman, bisakah ceritakan tentang kematian Papa sama Mama dulu?!"
Sontak pertanyaan yang terlontar dari Sofia cukup membuat lelaki itu terkejut. Begitu juga dengan sang istri.
"Ke-kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang hal ini?" Seraya Paman Botek duduk di sebelahnya. Acil Mina pun ikut memandang serius pada Sofia.
"Memangnya ada apa Sofia?" lanjut Acil MIna.
Gadis itu menggeleng, sembari menyuap nasi ke mulutnya.
"Ulun hanya ingin tahu aja, Paman. Soalnya antara kisah Paman sama Nini beda." (Ulun = saya)
"Kada ada yang beda, Sofia. Semua hanya satu kisah. Yaitu Mama sama Papa kamu meninggal karena kecelakaan, yang sebelumnya mengakibatkan mereka jadi sakit."
"Keduanya sakit? Papa dan Mama sakit?" Sofia terus mengulang pertanyaannya.
Dengan mengalihkan pandangannya dari Sofia, Paman Botek menjawab, "Iya!" Suaranya terdengar tegas.
Walau pun Sofia terlihat ragu seolah tak mempercayai. Pada akhirnya gadis itu diam dan tak banyak tanya lagi.
"Bentar, Paman keluar ambil baterai."
"Baterai, buat apa?" tanya sang istri, merasa aneh. Buatnya itu alasan yang sangat mengada-ada. Namun Acil Mina tak melempar banyak tanya. Mungkin ada beberapa hal yang sengaja ingin dia lakukan, saat ini.
Tak lama, Paman Botek berlalu meninggalkan mereka. Sedangkan Sofia, setalah selesai makan, dia mengajak Acil Mina ke ruang tengah.
"Meninggalnya si Irul kenapa Acil?"
"Haaahhh? Si Irul?" Sofia mengangguk pelan.
Tampak Acil Mina melempar jauh pandangannya. Melihat ke arah TV yang menyala. Namun sebenarnya perhatian mereka tak terfokus pada salah satu acara.
"Kenapa Acil diam saja?"
"Acil bingung jawabnya, Sofia. Nanti saja tunggu Paman."
Sofia semakin merasa bahwa orang-orang di sekitar dirinya, banyak menutupi segala hal. Entah dikarenakan apa?
Sekali lagi Sofia membiarkannya.
'Besok aku akan tanyakan langsung sama Nini Amas,' tegas Sofia dalam hati. 'Biarpun semisal ketahuan Paman aku pergi sama dia. Biar saja. Aku akan cari tahu kejelasan semuanya!'
Tanpa sepengetahuan Mina dan Sofia. Botek berjalan keluar halaman menuju rumah Eno. Langkahnya lebar dan terkesan terburu-buru.
Saat langkahnya berhenti di depan pagar. Dia melihat pintu pagar yang masih belum terkunci. Dengan cepat Botek menyelinap masuk.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Masih saja pintu belum ada yang buka. Saat Botek terpikirkan untuk mengetuk lagi. Suara handle yang ditarik ke dalam terdengar. Muncul Eno yang mengernyit.
"Paman ...?"
"Siapa Eeen?!" teriak Mamak Eno dari arah dapur.
"Paman Botek, Mak."
"Suruhlah masuk, Eno!"
"Udah, Mak."
Terdengar langkah yang tergesa-gesa dari arah belakang. Dari raut wajah, tergambar rasa heran berbaur penasaran.
"A-ada apa Paman? Kok kayaknya penting sekali?"
"Memang!"
Deg!
Dada Mamak Eno berdebar kencang. Tangannya sampai berkeringat dingin. Eno yang melihat ketegangan di wajah sang Mamak, turut duduk di sampingnya.
"Katakan, Paman! Yang penting itu apa?"
"Apa ... kamu sudah bilang perihal kematian orang tuanya?"
"Kada, Paman! Mana berani ulun Paman. Itu soal yang sangat rahasia dan penting buat Sofia. Ulun tahu mana yang harus bilang sama mana yang kada!" (Kada = tidak)
Seketika Paman Botek menyandarkan tubuhnya. Lalu, mengembuskan napas yang lega.
"Kenapa Paman sampai tegang kayak tadi?"
"Soalnya, si Sofia menanyakan perihal kematian orang tuanya, Yun. Aku sampai kada bisa bernapas dibuatnya. Aku pikir kamu udah mengisahkan semuanya sama Sofia."
Mamak Eno menggeleng pelan.
"Kada mungkin itu, Paman!" tegas Mamak Eno.
"Mau sampai kapan Mamak sama Paman Botek simpan rahasia ini?" Tiba-tiba, Eno yang sedari tadi diam, ikut menyela pembicaraan mereka. Membuat keduanya kelabakan.
"Hussst! Eno, kamu ini tanya apa sih?"
"Tanya yang sebenarnya nanti pasti akan terjadi, Mak. Sofia sudah bukan gadis kecil yang Mamak sama Paman kenal dulu. Dia udah gede, usianya sama kayak Eno, 25 tahun!" Kali ini, Eno dan ibunya saling beradu pandang. "Apa Mamak sama Paman kada memikirkan hal ini sebelumnya? Mau sampai kapan ditutupi?"
Mereka berdua langsung diam. Memikirkan bahwa apa yang dikatakan Eno, ada benarnya juga.
"Tapi, kada dalam waktu dekat ini, En! Semua ini pasti akan sulit diterima sama Sofia." Paman Botek berusaha untuk menjelaskan pada Eno.
"Kalau pemikiran Paman seperti itu. Jangan kaget kalau suatu saat, Sofia akan tahu dengan sendirinya. Karena dia bukan gadis bodoh, yang diam. Eno sangat yakin, Sofia pasti akan mencari tahu semua yang terjadi dengan keanehan yang mulai dia rasakan."
Paman Botek mengusap wajahnya kasar. Dia mendengkus keras.
"Kamu benar, Eno." Suaranya lirih dan lemas. "Sebarapa kuat aku menutupinya, Sofia pasti akan tahu juga."
"A-pa mungkin Paman juga tahu penyebab semua kejadian di rumah Sofia itu?" tanya Mamak Eno tiba-tiba. Membuat lelaki itu memandang ke arahnya.
"Kenapa kamu berpikir aku akan tahu?"
"Mungkin saja Pak Hasbi atau Bu Lidia ketika itu mengisahkannya sama Paman."
Paman Botek menggeleng pelan.
"Aku juga kada tahu apa yang terjadi dalam rumah itu yang sabujurnya. Aku hanya bertugas bekerja dengan baik di rumah itu, Yun." (Sabujurnya = sebenarnya)
Namun, Eno menangkap keraguan dalam pengucapannya. Dia terus menatap sosok lelaki tua itu, tanpa jeda sedikit pun.
"Ya, sudahlah. Aku balik dulu. Nanti Sofia sama bini aku mencari."
"Baik, Paman."
Tampak Botek melangkah gontai, dalam perjalanan menuju rumah Sofia yang hanya berjarak beberapa meter saja. Dari teras depan rumahnya. Eno terus memperhatikan punggung lelaki tua itu.
"Kenapa kamu masih melihatnya? Ayo, kita masuk!"
"Aku juga kada tahu, Mak. Cuman menurut aku, ada yang ditutupi sama Paman Botek."
"Memangnya apa yang ditutupin sama dia? Jangan ngawur kamu! Ayo, masuk!"
Keduanya pun segera masuk rumah. Sedang Paman Botek menarik napas panjang berulang-ulang.
"Semoga semua akan baik-baik saja. Sesuai yang diminta Bu Syarif."
Setelah yakin dan mengembuskan napasnya. Langkah lebar Botek memasuki rumah. Dia melihat Sofia yang subuk dengan ponselnya. Sedangkan sang istri rebahan di kasur, sambil melihat TV.
"Udah datang, Abah?"
"Hemmm ...!"
Sekilas Sofia memperhatikan raut wajah Paman Botek, yang terlihat kusut.
"Paman kenapa?"
"Kada apa-apa, Sofia."
"Apa ... Paman capek?"
"Mungkin. Cuman Paman baik-baik aja. Teman kamu ... jadi datang besok?"
"Ohhh, iya Paman!" Seraya menepuk dahinya sendiri. Paman BOtek terus memperhatikan Sofia yang menggeser duduknya mendekati dirinnya. "Sofia lupa kalau teman ulun itu datangnya lusa. Bukan besok, Paman."
"Ya, kada apa-apa. Besok pagi biar aku bersihkan rumah sama Acil."
Sebenarnya dalam hati Sofia turut senang, atas perhatian yang diberikan pasangan suami istri ini. Namun kalau besok dia membersihkan rumah. Sofia berpikir dia akan kesulitan untuk menyelinap keluar dan menemui Nini Amas.
'Aku harus mencari cara, agar besok bisa keluar rumah. Mungkin dengan alasan ke bank ambil duit. Yes, itu aja alasan aku besok,' batin Sofia.
"Ada, yang lagi dipikirkan kah?" tanya Paman Botek yang terus mengamatinya.
Sofia menggeleng sembari tersenyum. Lalu melanjutkan mengirim pesan pada Aulia.
"Ehhh, Paman. Tadi, ulun ada baca buku Mama. Ulun juga menemukan dua foto aneh."
"Foto aneh?"
"Iya, Paman. Tunggu sebentar!"
Seketika Paman Botek wajahnya pias. Dia merasakan perut yang emndadak mulas. Apa yang dikatakan oleh Eno semua benar.
"Dia memang benar!"
_00_