Eno menggeser duduknya, agar mendekat pada Sofia.
"Apa kamu sudah pernah melihat sosok hitam mirip kamu?"
Deg!
Sontak pertanyaan Eno membuat Sofia mengangkat kepalanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Karena aku pernah melihatnya, Sof." Sengaja Eno berbisik sembari melihat ke ruang tengah. Sepertinya dia tak ingin bila Mamaknya sampai mendengar.
"Serius?"
Sofia menatap nyalang pada Eno. Gadis itu tak terlalu banyak bicara. Jadi saat dia mengatakan soal ini, Sofia langsung mempercayainya.
"Di mana?"
"Aku dua kali pernah melihatnya. Dulu waktu aku kecil. Dia saat itu lagi bersembunyi di balik pohon rambutan."
"Terus , terus!"
Sofia semakin penasaran, setelah mendengar cerita yang hampir sama dengan apa yang dia alami.
"Yang kedua, baru saja. Aku melihatnya sebelum kamu datang. Dia berdiri di dalam rumah. Di balik jendela."
Cerita itu membuat Sofia mengernyit.
"Bukannya, Nini Amas juga melihatnya di situ juga, Eno?"
"Memang, iya Sofia. Sebenarnya aku tahu saat kapan dia akan muncul. Cuman biasanya aku langsung lari ke dalam rumah. Aku benar-benar takut."
"Kamu, pernah melihat wajahnya?"
Spontan Eno menggeleng.
"Tak pernah aku bisa melihat wajahnya Sofia. Selain rambutnya selalu menutupi, dia membalakangi aku. Termasuk saat aku melihat di belakang pohon rambutan itu. Pas aku pulang dari bermain."
"Saat masih ada Irul?"
Eno mengangguk pelan.
"Tadi, Paman belum selesai cerita tentang kematiannya. Apa ... kematian yang wajar?"
"Aku sudah kada ingat. Yang jelas waktu itu semua orang gempar. Irul matinya--"
Saat derap langkah sang mamak, mendekat. Reflek Eno menghentikan kisahnya.
"Kamu minum obatnya dulu, Sofia. Ini ada roti buat ganjal perut. Mamak tadi kada masak 'kan? Orang seharian temani kamu ke kuburan."
"Iya, Mamak Eno. Kada apa-apa. Ini udah cukup, makasih Mamak."
"Dah, kamu makan dulu Mbak Sofia."
Sofia pun meminum obat pusing yang diberikan wanita itu.
"Mamak Eno, terus apa yang terjadi selanjutnya sama Papa dan Mama, setelah kejadian itu?"
Wanita itu tak langsung menjawab. Dia menyeruput teh hangat buatannya sendiri.
"Sebaiknya kamu tanyakan sama Paman Botek. Yang lebih tahu semua kejadian dalam rumah kamu saat itu, Sofia."
"Memangnya, setelah kejadian Papa itu, ada peristiwa lagi?"
"Hanya rentetan kejadia yang dialami Pak Hasbi sama Mama kamu saat itu."
"Seperti apa Mamak? Soalnya kalau Sofia tanya sama Paman, belum tentu di kasih tahu."
Mamak Eno menoleh pada anaknya. Tampak dia ragu saat ingin bercerita. Namun, Sofia terus bersikeras memaksanya.
"Cukup Mamak Eno ceritakan yang tahu saja. Kalau soal kabar berita yang Mamak Eno tidak tahu snediri jangan cerita!"
"Baiklah!" Dia menghela napas panjang. Sampai akhirnya berucap,
"Papa kamu mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya sendiri. Saat itu hendak Maghrib, Papa sama Mama kamu barusan pulang. Sedangkan kamu di jaga sama Acil Mina, di dalam rumah. Entah bagaimana kejadiannya, menurut beberapa orang ... ehhh."
Mamak Eno kembali terdiam, sesekali dia menoleh pada anak gadisnya yang terus memandang padanya.
"A-ada apa ini?"
"Ma-maafkan Mamak, Mbak Sofia.m Aku kada bisa mengisahkannya sama kamu sekarang. Aku takut kesalahan. Coba, Mbak Sofia tanyakan sama Paman. Maafkan Mamak sekali lagi, Mbak Sofia."
Tak bisa berkata-kata lagi. Sofia hanya memandang pada wanita yang sepantaran mamanya, tanpa jeda. Sofia pun tak bersikeras memaksanya.
'Mungkin aku harus mengungkap perlahan. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan, aku yakin Eno tahu semua tentang ini,' batin Sofia.
"Kada apa-apa, Mamak. Mungkin memang sebaiknya ulun juga kada harus tahu. Soalnya antara almarhumah Nini sama Paman Botek, penjelasannya kada sama, Mamak Eno. Ulun 'kan bingung." (Ulun = saya)
Mamak Eno langsung meraih telapak tangan Sofia. Mengusapnya dengan lembut, seraya memandang penuh keibuan.
"Mamak hanya bisa kasih saran. Jangan terlalu mengulik masa lalu, bila itu bisa mengubah pandangan kamu pada suatu hal. Apa pun yang terjadi di masa lalu, biar lah milik waktu saat itu. Yang terpenting saat ini."
"Tapi, Mamak Eno? Semua ini mengganggu Sofia. Semua rentetan yang ulun alami, sangat tak masuk akal di rumah itu. Mulai pesan yang terkirim ke nomer pacar ulun. Sampai telpon segala, Mamak. Padahal bukan ulun."
Tanpa terasa Sofia akhirnya terisak. Dia seperti menumpahkan sesak dan beban di d**a, yang selama beberapa hari ini ditahannya.
"Ulun sebenarnya sudah ingin balik ke Jawa aja, Mamak. Cuman, amanah Nini minta untuk menjual rumah ini. Tapi, makin ke sini, ulun makin kacau. Banyak hal yang kada bisa dianalogi sama logika ulun lagi. Sekarang, apa yang mesti ulun lakukan Mamak?"
Wanita itu memandang penuh pilu. Gadis yang dulu dia kenal penuh impahan kasih sayang dan manja, kini telah tumbuh menjadi gadis yang tegar dan kuat.
"Mamak yakin kamu pasti bisa selesaikan semuanya. Minta sama Allah, anakku. Jangan pernah lupakan Dia."
Sofia manggut-manggut.
"Ini udah jam sembilan, takutnya nanti Paman sama Acil cariin kamu."
"Baik, Mamak Eno. Sofia mau pulang dulu."
"Eno, sebaiknya kamu antar Sofia pulang."
Spontan Sofia menggeleng. "Kada usah, Mamak Eno. Orang dekat saja 'kan. Berani kok Sofia."
"Ayo, aku temani!" sahut Eno tanpa banyak bicara.
"Nah, itu Eno mau temani. Ya, udah. Mamak lihatin dari pagar."
Kedua gadis itu berjalan beriringan menuju rumah Sofia. Dari arah depan pagar, sengaja Sofia menghentikan langkahnya. memandang lurus pada rumahnya sendiri.
"Kenapa?"
"Memang rumah aku ini, terlihat snagat suram. Biar pun lampu sudah diganti yang terang sama Paman. Tetap saja terlihatnya gelap. Apa kamu ... kada merasa begitu, En?"
"Pasti semua orang yang lewat sini. Merasakan hal yang sama, Sof."
Bibir Sofia terkatup rapat dengan dagu yang berkerut keras.
"Apa, kamu juga kada tahu tentang apa yang menimpa orang tua aku dulu?"
Eno menggeleng pelan tanpa henti.
"Atau ... sebenarnya kamu tahu, tapi diam?"
Kali ini, Sofia setengah mendesak pada Eno.
"Jangan memaksa, Sofia."
Terdengar embusan napas panjang gadis itu. Dia hanya melirik pada Eno yang juga melihat ke arahnya.
"Jangan mengungkit luka yang sudah dikubur dalam-dalam Sofia."
"Kenapa kamu tahu itu luka?"
Eno menarik bahu, agar menghadap ke arahnya.
"Siapa pun yang kehilangan orang tua, adalah sebuah luka, Sof! Dan ... aku tak mau membahas hal ini. Semoga kamu mengerti!"
"Oke ... oke! Aku coba untuk mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi. Dan, aku mencoba untuk diam. Seperti itu, maksud kamu 'kan, Eno?"
Dari jauh terdengar suara kayuh sepeda yang semakin mendekat. Tak lama, Paman Botek dengan istri sudah muncul.
"Wahhh, makasih lah Eno. Udah temani Sofia," cetus Acil Mina.
Gadis itu hanya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan rumah Sofia, tanpa berucap apa pun juga.
"Udah lama, Sofia?"
"Baru aja ulun pulang dari rumah Eno."
"Maaf, ya. Tadi anak Acil minta dibelikan nasi bebek dulu. Ini sekalian Sofia makan lah!"
Wanita itu, menarik lengan Sofia untuk mengikuti langkahnya.
"Dari tadi udah di rumah Mamak Eno?"
Sofia mengangguk pelan.
"Paman Botek di mana tadi?" Tampak Sofia celingukan mencarinya.
"Ke halaman belakang, mau ganti lampu yang lebih terang. Biar dari depan enggak terlihat suram, Sofia."
"Kenapa Paman bisa tahu apa yang ada dalam pikiran Sofia? Baru saja tadi Sofia bilang ke Eno kayak gitu, Cil."
"Ya, udah. Sofia makan dulu!"
Acil MIna pun menemaninya. Tak lama, derap langkah Paman Botek terdengar menuju arah mereka. Sofia langsung menoleh ke arahnya, dengan pandangan yang serius.
"Paman, bisakah ceritakan tentang kematian Papa sama Mama dulu?!"
_00_