Tanpa rasa takut sama sekali. Mamak Eno beranjak dari tempat dia duduk. Berjalan lambat mendekati foto itu. Di amendongak pelan, memperhatikan. Ada gambar Hasbi dan Lidia, serta di antara mereka terdapat Sofia.
Sesaat foto itu tak bergerak. Hanya saja letaknya terjungkir dengan kepala di bawah. Segera Mamak Eno membenarkan posisinya.
"Aneh! Kok bisa gerak sendiri."
Saat memandang cukup lama.
"Haaahhh!" Sontak Mamak Eno terperanjat. Dia hanya bisa menutup kedua mulutnya tanpa ada suara yang terdengar. "Ke-kenapa fo-foto itu ... kepalanya tetap terjungkir?"
Kedua tangan bergerak cepat membenarkan kembali pigura foto tersebut. Mungkin saja dia tadi salah menempatkannya. Namun, berapa kali pun dia mengubah posisi. Semua hasilnya sama. Gambar yang ada di dalam pigura, tetap dengan posisi kepala di bawah.
Saat itu, Mamak Eno mulai merasakan ada yang salah dengan semua ini. Walau ragu, dia memberanikan diri untuk mengambil foto itu. Mengamati cukup lama, wajah Lidia, Sofia bahkan Hasbi, meskipun dalam posisi terjungkir. Hingga dia melihat bayangan aneh yang seperti menutupi wajah mereka berdua, Hasbi dan Lidia.,"
"Ehhh, ini hitam-hitam ini kenapa?" bisik Mamak Eno semakin keheranan. Sedangkan saat melihat gambar Sofia, dia tak melihat apa pun juga.
Wanita itu mencoba untuk memejamkan kedua mata, lalu membukanya pelan-pelan. Dalam pikiran Mamak Eno, mungkin karena dia mengantuk. Ternyata pemikiran itu salah.
Saat kembali mengamati foto itu. Bayangan hitam tadi menghilang. Namun, dia melihat noda merah di wajah ketiganya, termasuk Sofia. Spontan Mamak Eno melepaskan foto itu.
Pyaaaaarrrr!
Terbanting ke lantai. Membuat Mamak Eno tersadar. Lalu, kembali memperhatikan foto dengan kaca yang pecah berhamburan.
"Ke-kenapa, noda merah itu semakin banyak? Ini, seperti darah?"
Mamak Eno berjongkok, ada keraguan saat dia mengulurkan ujung telunjuk ke arah noda merah yang bercecer di beberapa bagian kaca. Lalu, mengendus. Hidungnya mencium bau amis dan anyir darah.
"Ke-kenapa bisa ada darah?"
Dia mendengar beberapa langkah yang menuju ke arahnya. Tak lama, Lidia sudah berdiri di ambang pintu bersama Botek.
"Ada apa, Yun?" tanya Botek heran. Saat melihat kaca pigura yang berserakan.
"Ulun juga kada tahu, Paman. Tiba-tiba aja foto itu jatuh. Terus ... aku lihat ada darah."
"Da-darah? Di mana Mamak Eno?" tanya Lidia, mendekati Yuni yang masih berjongkok dengan wajah tegang emndongak ke arah mereka.
"Ini!" Seraya menyerahkan pecahan kaca pada Lidia.
"Mana darahnya?" tanya Lidia. Mereka berdua memandang tajam ke arah Yuni yang terdiam, dengan mata terbelalak. Karena kenyataan yang ada noda darah tak terlihat sama sekali.
"Ta-tadi, beneran ada banyak darah Lidia. Aku melihatnya jelas banar."
"Tapi, sekarang mana? Jangan bikin aku makin pusing, Mamak Eno."
Mereka bertiga terdiam.
"Mungkin aku terlalu berhalusinasi, Lidia. Maaf ya."
Kedua wanita itu terduduk di lantai.
"Memangnya apa yang kamu lihat sebelumnya, Mamak Eno?"
"Kamu kok tahu kalau aku melihat sesuatu, Lidia?"
Lidia pun mengangguk pelan.
"Aku tahu aja."
"Sebelumnya tadi foto itu gerak-gerak sendiri, Lidia. Setiap aku benerin letaknya. Selalu kepalanya ngejungkir ke bawah. Lama-lama aku melihat kayak ada bayangan hitam gitu, nutupin foto kamu sama suami."
"Terus?"
"Ada noda merah di wajah kalian, termasuk Sofia."
Deg!
Tak bisa dipungkiri oleh Lidia jantungnya berdetak kencang. Saat nama anak gadisnya disebutkan oleh Mamak Eno.
"Sofia ... juga?"
"Iya, Lidia." Mamak Eno menarik lengannya hingga mendekat. "Jujur bilang sama aku, Lidia. Ada apa ini? Semua yang aku lihat tadi bukan halusinasi aku 'kan?"
Lida terdiam dengan pandangan yang masih mengarah pada Mamak Eno. Saat dalam keheningan yang terjadi.
"Haus ... haus!"
Suara Hasbi terdengar lemah.
"Biar aku ambilkan, Bu," sahut Botek yang langsung beranjak dari tempatnya ke arah dapur. Bersamaan dengan itu, para warga dan Kai Bahrun kembali ke kamar.
"Sudah sadar kah, Pak Hasbi?"
"Sudah, Kai. Ini minta minum."
Lelaki tua itu mengangguk. Lalu, mempehatikan pecahan kaca pigura di lantai.
"Ini ... kenapa?"
"Ehhh, tadi foto jatuh," jawab Mamak Eno, geragapan. Dia bingung harus jawab apa. Namun sepertinya Kai Bahrun mengetahui sesuatu.
Setelah Lidia memberikan air putih pada suaminya. Kai Bahrun menyuruh para warga keluar kamar. Kecuali Mamak Eno dan Paman Botek, yang disuruh tinggal di kamar itu.
"Tolong tutup pintu kamarnya!" pinta lelaki tua itu. "Duduklah kalian di sini!" ajaknya sembari duduk bersila di lantai. Lidia, Mamak Eno, serta Botek sudah duduk setengah lingkaran menghadapnya.
"Sekarang katakan dengan jujur, ada apa dengan foto itu?"
Mamak Eno langsung menoleh pada Lidia, yang mengangguk pelan. Pertanda agar dia mengatakan yang sebenarnya pada Kai Bahrun.
Wanita itu mulai menceritakan semuanya. Dari gerakan foto, yang gambarnya terus terjungkir ke bawah. Serta bayangan hitam dan noda merah di wajah mereka bertiga.
Seketika lelaki tua itu, menengadahkan kepalanya. Sambil terpejam, seolah hendak berkomunikasi dengan seseorang. Lidia, dan yang lain, terus memperhatikan gerakan Kai Bahrun. Dia seperti tengah berkonsentrasi. Sesekali kepalanya bergerak-gerak dengan mulut yang terbuka lebar. Lalu, bibirnya seperti mengucapkan sesuatu tanpa suara.
"Kenapa kalian melakukan ini, Bu Lidia?"
"Maksud Kai apa?" tanya Lidia dengan mimik serius.
Kemudian, Kai Bahrun menyuruh Mamak Eno dan Botek untuk keluar kamar. Samar Mamak Eno masih bisa mendnegar saat dia menutup pintu, pertanyaan Kai Bahrun pada Lidia yang diulang.
"Kenapa kalian melakukannya?"
"Ulun makin tidak mengerti, Kai." (Ulun = saya)
Setelah itu baik Mamak Eno atau pun Botek tak bisa mendengarkan percakapan mereka lagi.
"Paman Botek, sebenarnya ada apa?"
"Aku juga kada tahu lah."
"Kenapa pertanyaan Kai Bahrun kayak gitu? Apa yang dilakukan Lidia sama Pak Hasbi?"
Tetap saja Paman Botek menggeleng. Mamak Eno pun tak bisa memaksanya. Karena dia pun juga tak tahu, apakah Paman Botek mengetahui hal ini atau tidak.
Mamak Eno menghela napas panjang, mengakhiri ceritanya. Tatap matanya masih tajam memandang pada Sofia, yang semakin penasaran dengan cerita Mamak Eno.
"Apakah sejak itu, Papa sembuh?"
"Iya. Cuman kata Lidia, Papa kamu masih sering muntah darah. Terkadang ada kayak arang dari muntahannya."
"Yang menolong masih Kai Bahrun juga?"
"Iya, waktu itu. Setelah Kai Bharun meninggal, aku kada pernah tahu lagi, mereka berobatnya ke mana."
"Apakah Mama juga sakit kayak Papa?"
"Kalau ini, aku kurang tahu. Soalnya Mama kamu hanya sakit kada sampai satu minggu akhirnya meninggal. Hanya selisih tiga hari dari Papa kamu. Masih ingat 'kan?"
"Iya. Ulun ingatnya Mama pernah muntah darah di kasur juga, Mamak Eno. Tapi ... yang lainnya pun ulun masih kada ingat."
"Kalau kata orang-orang, Papa kamu ini kesambet jin di suatu daerah pedalaman. Yang kada mau pergi dari badannya. Nah, waktu Kai Bahrun masih hidup, dia bisa halau. Pas sudah kada ada, balik lagi lah jinnya itu."
Sofia memegang kepalanya, yang terasa berputar. Mungkin dia terlalu keras berpikir hal ini.
"Ka-kamu, kenapa Mbak Sofia?"
"Pusing, Mamak Eno."
"Minum obat ya?"
Gadis itu mengangguk. Segera wanita itu berjalan cepat menuju dapur, dan membuat teh hangat untuk Sofia.
Eno menggeser duduknya, agar mendekat pada Sofia.
"Apa kamu sudah pernah melihat sosok hitam mirip kamu?"
Deg!
Sontak pertanyaan Eno membuat Sofia mengangkat kepalanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
_00_