FOTO YANG TERJUNGKIR

1118 Kata
"Kita harus bawa ke dokter, Botek!" seru Lidia. "Ini kada akan sembuh biar pun dibawa ke dokter," sahut Botek, yang langsung mendapat respon anggukkan dari para tetangga yang lain. "Memangnya, suami saya ini kenapa?" tanya Lidia cemas dan bingung. Tak ada yang menjawab. "Kita takutnya suami Ibu Lidia ini, kena ain," sahut Pak RT. "Ain?" ulang Lidia terlihat bingung. "Ain itu apa Pak RT?" "Penyakit yang ditimbulkan dari makhluk halus. Para lelembut yang memang mengganggu Pak Hasbi, Bu." Lidia terdiam. Dia pun kebingungan apa yang harus dia lakukan. Tiba-tiba .... "Aaaarghhhh! Jangan lukai anakku! Jangan ambil Sofia!" Suara Hasbi berteriak sangat kencang. Dengan kedua mata yang terpejam rapat. Seperti orang yang mengigau. Sontak teriakannya sangat mengejutkan Lidia dan para warga. "Cepat panggil Kai Bahrun. Mumpung dia lagi ada di rumah adiknya," ujar Pak RT. "Kai Bahrun?" desis Lidia tak mengerti. "Biasanya beliau ini bisa tahu dengan penyakit ain kayak begini, Bu." "Ba-baik, Pak RT. Terserah Bapak, yang penting suami saya bisa sembuh." Salah seorang dari warga langsung berlari keluar rumah. Segera dia naik motor untuk menjemput lelaki yang bernama Kai Bahrun. Dalam kegelisahan bercampur kecemasan. Yuni atau yang biasa dipanggil orang-orang, Mamak Eno. Terus memberikan semangat dan dukungan pada Lidia. Yang kini terduduk di samping sang suami, yang mendengkur lembut. "Awalnya tadi kayak apa sih, Lidia?" ":Dia habis pulang dari luar kota, Yun. Awalnya semua baik-baik saja, cuman dari wajah suami aku tuh, udah beda. Dia kayak tegang. Wajahnya pun sedikit pucat. Tapi enggak mau cerita, ada apa yang terjadi. Sampailah kejadian itu tadi." "Mungkin Pak Hasbi habis dari hutan?" "Ulun juga enggak tahu Pak RT." Sembari melihat ke arah Botek, yang juga terlihat sangat cemas."Memangnya ada apa Botek? Kan sama kamu seharian ini?" Botek pun hanya menggeleng. Dia diam tanpa bicara sepatah kata sama sekali. Mmebuat Lidia kesal dengan napas yang terembus berat. Di tengah keheningan, tanpa ada yang bersuara. Derap langkah orang berjalan cepat menuju arah mereka. Tak lama Kai Bahrun sudah muncul di ambang pintu. "Kenapa dia?" tanya lelaki tua itu, langsung mendekati Hasbi yang terbaring. Lidia segera beranjak dari tempatnya. Untuk memberikan ruang pada lelaki itu memeriksa Hasbi. "Silakan, Pak!" Terlihat dahinya mengernyit keras. Seperti tengah berpikir sesuatu. "Bisa kita bicara empat mata saja?" tanya lelaki tua itu pada Lidia. "Bisa, Kai. Silakan ikuti saya!" ujar Lidia seraya mengajak menuju kamar Sofia. Mamak Eno hanya bisa melihat kepergian mereka, tanpa pernah tahu apa yang sedang dibicarakan di dalam sana. Hampir satu jam lamanya, barulah mereka keluar kamar. Membuat mereka yang hadir bertanya-tanya, pembicaraan serius apa yang mereka bicarakan. "Tolong ambilkan daun keladi. Adakah yang punya tanamannya?" "Keladi yang bagaimana Kai?" tanya Mamak Eno. "Terserah aja, Bu. Kalau ada keladi buat sayur." "Baik, Kai. Di rumah ulun ada. Sebentar lah Kai." Lelaki itu pun mengangguk pelan. Tampak kesedihan membayang di wajah Lidia. Entah apa yang disampaikan oleh lelaki tua itu. Sampai membuat Lidia tak berhenti mengeluarkan air mata. Botek pun terus mengamati Lidia yang tampak syok. Entah apa yang membuatnya sampai seperti itu? Bergegas Mamak Eno yang baru saja datang, memberikan beberapa lembar daun talas pada Kai Bahrun. Lelaki itu pun langsung mengambil bungkusan kecil di dalam tas, yang dia selempangkan di d**a. Ternyata garam yang masih berbentuk bulatan kasar. Setelah membungkusnya dengan daun keladi, Kai Bahrun mengusap di bagian d**a. Perlahan naik hingga pangkal tenggorokkan. Sampai membuat Hasbi membuka mulutnya lebar-lebar.; Seperti hendak emmuntahkan sesuatu yang besar. "Ambilkan kantong plastik! Cepat!" teriak lelaki itu. Lidia pun berlari keluar kamar, menuju dapur. Hanya dalam sekian detik, dia sudah kembali ke kamar. "Ini, Kai!" "Pegang, terus arahkan ke mulutnya." "I-iya, Kai." Terlihat tangan Lidia gemetaran. Dengan keringat dingin yang terus mengucur membasahi wajah dan tubuhnya. Mereka yang ada di dalam kamar, ikut tegang dan ikut merasakan kesakitan yang diderita Hasbi. "Keluyarkan semua yang ada dalam badan kamu!" Sembari Kai Bahrun memukulkan daun talas ke bagian tubuh Hasbi. Dari ujung kaki hingga ubun-ubun. Tak lama, Hasbi pun muntah-muntah. Hingga muntahan terakhir, membuat perutnya tiba-tiba membesar layaknya orang hamil.  Segera Kai Bahrun menekan kuat bagian ulu hati, bergerak hingga ke bawah pusar. Tarikan napasnya terdengar lembut dan sangat teratur. Hanya dalam beberapa detik, perut Hasbi kembali kempes. Bersamaan dengan sendawa dan kentut yang terus menerus. "Biarkan dia terus bersendawa, atau kentut. Itu untuk buang gas dalam badannya." "Memangnya Pak HGasbi kenapa Kai?" tanya Pak RT. "Ada makhluk yang kebetulan lewat. Dan menyukai badan Pak Hasbi ini, sebagai wadah." "Wadah?" bisik para warga. "Mungkin kalau istilah orang Jawa ini namanya kayak kesambet gitu kah, Kai?" tanya Botek yang emnyela perbincangan mereka. Kai Bahrun hanya tersenyum. "Bisa saja seperti itu." Sembari mengambil kantong plastik yang dibawa Lidia."Tolong Botek, kamu cangkul tanah, dengan lubang kada usah terlalu dalam. Biar aku kuburkan kantong ini!" "Ba-baik, Kai."  Bergegas Botek berlari keluar kamar, menuju dapur mengambil cangkul. Dan langsung membuka pintu belakang.Mamak Eno ternyata mengikutinya. "Aku temani Paman di sini." "Iya."  "Paman, aku penasaran sama yang mereka bicarakan di dalam tadi. Kira-kira apa ya?" "Hussst! Jangan ikut campur urusan orang!" Mamak Eno terlihat manyun, dengan tangan yang menggaruk kepala. Sedangkan Botek,  terus mencangkul tanah, sesuai perintah Kai Bahrun. "Tolong bilang Kai, lubang tanahnya sudah siap," pinta Botek pada Mamak Eno. "Baik, Paman." Wanita itu segera berlari menuju kamar Hasbi. "Kai, tanahnya sudah siap." "Ayo, Bu Lidia ikuti saya!" "Baik, Kai." Mereka mengikuti langkah lelaki tua itu. Sejenak dia berhenti dan menoleh ke arah belakang. "Tolong kalian jangan ikut semua! Harus tetep ada yang jaga Bapak Hasbi." "Biar ulun aja yang jaga Kai," sahut Mamak Eno.  Para warga yang lain terlihat lega. Mereka kembali mengikuti langkah Kai Bahrun dan Lidia. Sedangkan Mamak Eno berjalan masuk kamar. Dia duduk di sebuah kursi kecil yang berada di samping ranjang. "Pak Hasbi sebenarnya kenapa? Kalau pun kesambet, kada kayak itu tadi lah," gumam Mamak Eno yang penasaran. Di saat yang bersamaan. Dia mendengar suara aneh. Seperti sesuatu yang bergesekan dengan tembok kamar. Sontak pandangan matanya, mengitari seluruh kamar. Hingga terfokus pada satu titik, tepat pada sebuah foto yang tergantung di dinding. Berulang kali Mamak Eno mengucek kedua mata. Seolah meyakinkan pandangannya yang mungkin salah. Dalam penglihatan dirinya kali ini. Wanita itu melihat, kalau foto yang terletak dalam sebuah pigura ukuran tanggung, bergera naik turun dengan sendirinya.    "Ahhh, kenapa juga tuh foto?" Yang ada dalam pikirannya kali ini, hanya rasa penasaran. Sekilas Mamak Eno memandang Hasbi yang maish tidur pulas. mUlut yang tadinya terbuka lebar telah mengatup rapat. Tanpa rasa takut sama sekali. Mamak Eno beranjak dari tempat dia duduk. Berjalan lambat mendekati foto itu. Di amendongak pelan, memperhatikan. Ada gambar Hasbi dan Lidia, serta di antara mereka terdapat Sofia. Sesaat foto itu tak bergerak. Hanya saja letaknya terjungkir dengan kepala di bawah. Segera Mamak Eno membenarkan posisinya. "Aneh! Kok bisa gerak sendiri." Saat memandang cukup lama.  "Haaahhh!"  _00_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN