KENYATAAN YANG MENYAKITKAN

1111 Kata
"Ehhh, Paman. Tadi, ulun ada baca buku Mama. Ulun juga menemukan dua foto aneh." "Foto aneh?" "Iya, Paman. Tunggu sebentar!" Seketika Paman Botek wajahnya pias. Dia merasakan perut yang mendadak mulas. Apa yang dikatakan oleh Eno semua benar. "Dia memang benar!" bisik Paman Botek. Dalam menit kemudian. Dia mendengar derap langkah Sofia yang berjalan ke arahnya. Seraya memberikan dua foto tua yang ditemukannya pada buku agenda milik sang mama. "Coba Paman perhatikan foto ini!" Lelaki tua itu, turut memperhatikan apa yang dikatakan Sofia.   "Apa yang Paman lihat?!" "Ehhh ... aku melihat bayangan hitam di belakang kamu, Sofia. Yang ini juga pas di pantai." "Nah, berarti apa yang aku lihat. Paman Botek juga lihat. Iya 'kan?" Paman Botek mengangguk pelan. "Menurut Paman, bayangan hitam ini makhluk apa? Jin, penghuni rumah ini? Ataukah jin yang memang mengikuti ulun sedari kecil, Paman?" Seketika lelaki itu tertunduk. Sembari menggeleng. "Pasti Paman tahu sesuatu tapi kada mau bilang sama Sofia. Ulun yakin ini semua ada hubungan dengan peristiwa yang menimpa Papa atau pun Mama. Satu hal lagi, Paman. Mamak Eno telah bercerita tentang kejadian waktu itu. Saat Papa muntah darah. Dan, didatangkan seorang tabib ke rumah ini. Iya 'kan Paman?" "Iya, Sofia." "Dan ... Paman kada mau cerita, kalau ulun kada tanya? Buat Sofia ini sangat penting sekali, Paman. Karena Sofia harus tahu apa yang terjadi dengan masa lalu keluarga ulun, Paman." "Maafkan Paman, Sofia. Banyak hal di masa lalu yang belum bisa Paman ceritakan semuanya. Akan ada waktu saat itu tiba nanti." "Kapan, Paman?" Botek hanya bisa diam. Mmebuat Sofia smekain kesal. "Apa sih sebenarnya yang Paman mau tutupi dari Sofia?" "Paman kada mau kamu sedih. Ini masa lalu yang harusnya dilupakan saja, Sofia." "Dilupakan, Paman bilang?" Sofia menatap tajam ke arah lelaki yang duduk di hadapannya. "Apa menurut Paman dengan sikap Paman ini semua akan beres? Kada, Paman! Karena Sofia akan mencari tahu sendiri semuanya." Dia menyambar dua foto yang berada di atas meja. Membawa masuk ke kamar. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Hingga mmebuat ranjangnya berderit cukup keras. Melihat sikap Sofia yang marah dan kesal terhadapnya. Buru-buru Paman Botek beranjak dari tempat dia duduk. Diikuti oleh sang istri. Keduanya kini berdiri di depan pintu kamar Sofia. "Biar ulun aja, Abah!"  Acil Mina mengetuk pelan. Tok tok tok! "Sofia, bukalah pintunya! Kita berdua ingin bicara." Tak ada sahutan dari dalam kamar. Kembali Acil Mina mengetuk pintu. Tok tok tok! "Sofia, bukalah pintunya!" Sekian detik kemudian. Pintu terbuka perlahan. Di hadapan mereka  Sofia memandang mereka satu persatu dengan wajah masam.  "Kami berdua ingin bicara dulu sama kamu, Sofia," ujar Paman Botek. Tanpa bicara, Sofia membuka lebar pintu kamarnya. Lalu, dia kembali duduk di atas kasur. Tampak Paman Botek dan istri, mengikutinya. Mereka berdua pun ikut duduk di tepian kasur. "Sebelumnya Paman mau minta maaf sama Sofia. Banyak hal yang dari awal, memang Paman kada mau ceritakan. Karena menurut Paman itu kada baik. Akan membuat Sofia terbebani. Apalagi aku sudah berjanji sama Bu Syarif soal ini." "Terus, Paman masih kada mau cerita juga?" "Aku mau mengisahkannya, asal kamu mau janji sama Paman!" "Janji apa dulu itu, Paman?" "Jangan pernah melakukan hal apa pun tanpa sepengetahuan Pamam atau Acil. Kamu bisa aku percayai atau kada?" Sejenak Sofia menatap tajam padanya. "Tapi, kenapa harus bilang sama Paman semuanya? Ini, kan jadi aneh Paman." "Untuk kebaikan kamu, Sofia," sahut Acil Mina lembut. Tak ada yang bisa dia elak dan hindari lagi. Sofia pun manggut-manggut. Seraya menyetujui apa yang jadi permintaan dari Paman Botek dan juga istri. "Baiklah, Paman. Sofia setuju mengikuti aturan Paman sama Acil." Lelaki itu, mengambil napas panjang. Lalu mengembuskan perlahan, seraya ingin meluangkan beban di hati. "Sekarang, apa yang ingin kamu tanyakan?" "Apa penyebab kematian Papa sama Mama yang sebenarnya?" Tampak Paman Botek, yang sudah mengira tentang hal ini manggut-manggut. "Masih ada dua hal lagi, Paman." "Apa aja itu, Sofia?" Dari raut wajah yang terpancar. Sangat terlihat jelas bila Paman Botek dan Acil MIna sangat tegang. "Kedua, apa yang dikatakan lelaki tua yang datang saat Papa muntah darah? Saat bicara sama Mama. Terus, yang ketiga, apakah semua kejadian ini berhubungan dengan cermin itu? Makhluk yang ada di dalamnya, waktu hari pertama Sofia ke rumah ini. Apa semua berkaitan dengan sosok itu?"  Pandangan mata mereka berdua seketika nanar. Paman Botek mengusap matanya berulang-ulang. "Untuk pertanyaan ketiga, Paman bujur-bujur kada tahu, Sofia. Hanya bisa menebak saja." (Bujur = benar) "Terus pertanyaan yang lain?" "Akan Paman jawab, sesuai dengan yang Paman ketahui, Sofia. Karena menurut Paman, pertanyaan nomer satu sama dua, ada jawaban yang saling berhubungan." "Coba aja Paman jelaskan!" Sofia menarik bantal dan meletakkan di punggungnya. Dia pun bersandar pada dinding kayu di kamarnya. "Mungkin kamu akan kaget. Cuman Paman minta tolong, untuk tidak marah atau sedih yang berlebihan." "Baik, Paman. Insyallah, Sofia akan kuat." "Mama kamu meninggal ... ehmmmm, karena ditabrak Papa kamu sendiri." Suara Paman Botek hampir tenggelam. Bahkan Sofia sampai mendoyongkan tubuhnya ke arah depan. "Mama ... meninggal, karena ditabrak Papa? Begitu kah Paman?" Sontak manik mata Sofia berkaca-kaca. Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Paman tak berbohong soal ini?" Lelaki itu menggeleng. Dia dan istri ikut merasakan kesedihan yang melanda Sofia. Gadis itu terisak, lirih. Walau sekuat tenaga dia menahan lara hatinya. Tetap saja tak mampu membendung perasaannya yang hancur. Sofia benar-benar syok, mendengar kenyataan yang ada. "Ja-jadi, Papa menabrak Mama?" "Semua itu terjadi karena kada sengaja, Sofia. Semua itu kada snegaja!" tegas Acil Mina berulang-ulang. Tetap saja gadis itu menangis sesenggukan. Yang awal hanya terdengar lirih. Kini, suara tangis Sofia memenuhi ruangan kamar ini. Mina hanya bisa memandang ke arah suaminya. Dari awal mereka sudah bisa menebak, kalau Sofia tidak akan bisa menahan gejolak perasaannya. Setelah mendengar cerita tragis ini. Sebuah cerita yang tersimpan rapi, sejak dia berusia sepuluh tahun lalu. Hampir lima belas tahun berselang, dan baru kali ini Sofia mengetahui cerita yang sebenarnya. Setelah nenek yang dia cintai meninggal. Bagaimana dia bisa menumpahkan seluruh kesedihannya ini? Tangis Sofia masih juga belum berhenti. Paman Botek memberikan isyarat pada istrinya, untuk mendekati Sofia. Setidaknya dengan memeluk gadis itu, dia bisa lebih tenang. Mina pun mendekati dan langsung memeluk Sofia erat. "Maafkan kami, Sofia! Kami hanya tak ingin kamu jadi lemah dan bersedih seperti ini. Kamu harus menjadi sosok yang kuat dan tegar, dengan semua kejadian yang menimpa orang tua kamu." "Iya, Acil. Tapi, ulun kada menyangka, kalau cerita Papa sama Mama akan setragis ini. Sakit rasanya hati ini, Acil. Kenapa waktu itu, Sofia kada ikut juga mati sama mereka." "Husssst! Jangan pernah bicara kayak gitu lagi, Sofia. Bukannya tadi kamu sudah janji sama Paman?" Gadis itu kembali menangis dan memluk lebih erat tubuh Acil Mina. "Maafkan, Sofia! Maafkan, Sofia, yang kada setegar bayangan Paman sama Acil," ucapnya lirih.  _00_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN