Hari sudah pagi dan hari ini Alena akan melaksanakan operasi atas saran dokter. sementara Mika, bu Ratih, dan pak Rudy masih setia menemani pak Widodo di RS.
3 jam sudah Alena berada di ruang operasi tapi belum ada tanda apapun dari dokter. dengan perasaan cemas semua berharap ada keajaiban untuk Alena. keluarlah seorang dokter muda mengenkan pakaian serba hijau menghampiri mereka.
" Dokter bagaimana dengan operasi anak saya dok? " pak Widodo menghampiri sang dokter
" Berjalan lancar pak, hanya tinggal menunggu pasien siuman saja " jelas sang dokter
" Namun ada kemungkinan pasien akan kehilangan penglihatannya akibat trauma pada matanya karena benturan pada saat kecelakaan" dokter kembali menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi pada Alena
" Apa dok? anak saya tidak bisa melihat lagi? " pak Widodo terduduk lemas menerima kenyataan pahit yang harus diterima anak gadisnya
" Ya pak, tetapi masih ada kemungkinan untuk sembuh " ucap sang dokter memberikan sebuah harapan
Pak Rudy dan bu Ratih segera menghampiri pak widodo yang sedang menangis terduduk dilantai. memapahnya untuk duduk diatas kursi.
" Sabar Wid kita lewati ini bersama. Alena pasti akan sembuh nanti kita carikan dokter terbaik untuknya" ucap pak Rudy menenangkan sahabatnya
" Terimakasih Rud, sebaiknya kalian pulang dulu kerumah untuk istirahat.Alena biar aku saja yang jaga " pak Widodo tak ingin merepotkan keluarga sahabatnya itu
" Baiklah kaupun harus istirahat juga " menepuk pundak pak Widodo mengingatkan.
" Iya mas Wid biar Mika dan Abee saja yang akan menjaga Alena disini. lebih baik mas juga pulang bersama kami " bu Ratih menyuarakan pendapatnya sambil menggandeng Mika mendekat kearah pak Widodo.
Mika tampak pasrah atas saran ibunya itu bagaimanapun dialah yang telah menyebabkan semua kekacauan ini. jadi dia harus bertanggung jawab atas semuanya terlebih Alena mengalami luka serius yang kini mengakibatkan dia tak dapat melihat.
" Om sebaiknya om istirahat saja di rumah, biar saya dan asisten saya saja yang menjaga Alena. nanti kalau Alena sadar kami akan hubungi om " Mika berusaha meyakinkan pak Widodo
" Tapi kau juga sedang terluka nak dan perlu istirahat " pak Widodo menunjuk luka pada pelipis Mika
" Tak apa om ini hanya luka kecil, lagi pula saya bisa beristirahat disini " Mika menunjuk bangku kosong yang sedari malam dipakainya
"Baiklah om akan pulang, tapi jangan lupa beri kabar kalau Alena sudah sadar " akhirnya pak Widodo menyerah dan mempercayakan menjaga Alena pada Mika dan Abee
"Baik om " dengan segera menjawab sambil tersenyum
"Ya sudah om pulang dulu ya! " berpamitan meninggalkan mereka
"Mamih sama papih juga pulang dulu ya, sayang jaga Alena ya " pamit bu Ratih pada anaknya Kemudian melangkah pergi bersama pak Rudy.
****
Kini Alena sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, Abbe dan Mika memadangi Alena yang masih tebaring dengan kedua matanya tertutup perban.
" jadi bagaimana aku harus bertanggung jawab Bee? " pertanyaan yang sejak malam terus berputar diotak Mika lolos begitu saja
" kau harus membicarakan ini dengan keluargamu Mik " menepuk pundak Mika memberi dukungan
" tapi dia buta karna kecerobohanku Bee!! " dengan mata masih tertuju pada Alena
" sudahlah ini semua kecelakaan " berjalan menuju meja disudut ruangan kemudian menuangkan air minum pada gelas
" saat dia bangun bagaimana caraku memberitahunya ? " membayangkan saat Alena sadar dan tak dapat melihat pasti akan membuat Alena tersiksa
" Tapi aku yakin dia gadis baik yang tak akan menghakimimu atas apa yang menimpanya " menyodorkan segelas air pada Mika
" kau yakin dia seperti itu " akhirnya menatap Abbe dan menerima gelasnya
"Ya kalau diperhatikan dia sepertinya bukan tipe gadis manja yang cengeng " kembali menatap Alena
" saat masih kecil dia sangat manja tapi sepertinya sekarang dia sudah berubah " menerawang mengingat masa kecil mereka dulu sambil meneguk air dalam gelas
" sepertinya kau sangat mengenalnya dengan baik " ucap Abee yang belum tahu kalau mereka teman masa kecil
" ya dia teman kecilku dulu, dia sudah seperti adik kecil bagiku, tapi sudah 15 tahun lebih kami tak bertemu lagi tepatnya setelah aku pergi keluar negri kita tak saling bertemu lagi" Mika menjelaskan bagaimana mereka saling mengenal.
Dulu Mika dan Alena memang dekat bahkan seperti adik dan kakak terlebih karna perbedaan usia mereka yang pas seperti kakak dan adik.
****
Hari mulai sore Abbe tertidur di sofa sementara Mika duduk memainkan ponselnya. di atas ranjang Alena mulai mengerakkan jemarinya. Mika menyadari Alena yang bergerak segera menyimpan ponselnya dan mendekati ranjang Alena.
"Al kau sudah sadar " suara Mika membangunkan Abee yang kemudian mendekati mereka
" aku dimana? " kalimat pertama yang diucapkan Alena
" ini di rumah sakit Al " jawab Mika
" Abee tolong panggilkan dokter !!! " perintah Mika
" Kenapa disini sangat gelap " tangan Alena meraba kasur mencoba mencari sesuatu
Mika hanya terdiam mendengar ucapan Alena tak tahu harus menjawab apa. Hingga tangan Alena menyenggolnya dan membuat dia sadar.
" kau siapa? Papah mana? pah kenapa disini gelap sekali? Al tak bisa melihat apapun pah! " teriak Alena mencari sang ayah terdengar menyayat hati mika
"Al tenang dulu Al, ini aku Mika! " Mika menangkap tangan Alena yang sedang meraba-raba
" kak papah mana? Kenapa aku tidak bisa melihat? " memegangi tangan Mika dengan erat
" papahmu sekarang sedang di rumah nanti akan datang, sekarang kau tenang dulu " menepuk punggung tangan Alena
" kak kenapa aku tidak bisa melihat? " meraba matanya sendiri yang tertutup perban
" maaf Al " hanya kata itu yang keluar dari mulut Mika
" Aku buta kak ? " menebak apa yang kini dia hadapi sambil menggoyangkan tangan Mika meminta penjelasan
Mika hanya dapat mematung tak menjawab pertanyaan Alena. sementara alena menangis histeris menerima kenyataan pahit yang harus dia terima. Dia tak bisa membayangkan hidup tanpa penglihatan sungguh akan merepotkan orang disekitarnya.
Mika memeluk Alena yang masih menangis pilu mencoba memberi dukungan agar Alena merasa tenang. Tapi Alena mendorong Mika menjauh menolak pelukan yang Mika berikan.
" Tolong tinggalkan aku sendiri kak! " pinta Alena masih tersedu
"Baiklah " Mika melangkah mundur untuk menjauh tapi tidak benar benar meninggalkanya sendiri
" Tuhan dosa apa yang telah aku perbuat sehingga kau menghukumku dengan cara seperti ini? " dengan kepala tertunduk Alena bermonolog tangannya meremas selimut.
Mika yang memperhatikannya dari jauh terenyuh matanya mulai berembun. Rasa bersalah didalam hatinya semakin membuat dadanya terasa sesak. rasanya ingin berlari memeluk gadis itu namun dia urung sengaja memberikan waktu untuk Alena agar bisa meluapkan semua emosinya saat ini.