Tanggung jawab

1101 Kata
Satu minggu sudah Alena dirawat di Rumah sakit. Dia sudah mulai tenang tapi masih selalu menangis dan menolak didakati orang lain selain ayahnya dan bik Ida. Tapi Mika selalu menjenguknya saat Alena sedang tertidur. Mika sedang berjalan memasuki rumah keluarga Atmaja. Dikagetkan dengan suara panggilan dari ibunya yang sedang duduk di ruang tv. " Mika kau sudah pulang nak? " bu Ratih menatap wajah anaknya baru saja datang " iya mih " jawab Mika sambil berjalan mendekati sang mamih dan duduk di sebelahnya " kamu capek ya sayang? " meraih tangan anaknya " lumayan mih " jawab Mika sambil tersenyum " sayang mamih tahu ini berat buat kamu dan Alena. Ini juga berat buat kami semua " Bu Ratih mengelus punggung tangan anaknya " mamih bagaimana cara Mika harus bertanggung jawab atas semua ini? " Mika menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. mencoba mencari ketenangan atas kegundahan hatinya saat ini " bagaimana kalau kau menikahi Alena saja nak? " tangan bu Ratih mengelus rambut Mika penuh sayang " anggaplah sebagai bentuk tanggung jawabmu untuk menjaganya " jelas bu Ratih " Tapi mih kita tak saling mencintai ! " sela Mika " ya mamih tahu kalau kalian tak saling cinta, tapi sayang cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu! Mamih dan papihmu juga dulu tak saling mencintai, Karena kami menikah karena dijodohkan. Tapi lihatlah sekarang kita sudah memiliki kau yang sebesar ini! " jelas bu Ratih panjang lebar sambil mengacak rambut Mika " Mamih " protes Mika yang tak terima rambutnya diacak sang ibu " mamih harap kamu bisa mengembalikan keceriaan Alena seperti dulu " mata bu Ratih mulai berkaca-kaca " Mamih jangan nangis dong! " Mika memegang tangan ibunya " Mamih ga bisa bayangkan kalau Alena selamanya seperti ini. Apakah akan ada lelaki yang dapat mencintainya dengan tulus, menerima semua kekurangannya! " menyeka air mata yang mulai meleleh " Mih Mika janji akan bertanggung jawab atas Alena " Mika menggenggam tangan bu Ratih dengan erat saat mereka sedang serius berbicara terdengar suara langkah kaki mendekat. Ternyata pak Rudy baru saja pulang dari kantor. " Ada apa Mih? " Terlibat panik segera mendekati istrinya " papih? " bu Ratih dan Mika berbarengan sambil menengok ke arah pak Rudy " kalian kenapa? Mamih Kenapa nangis? " duduk dan meraih tangan sang istri " mamih lagi memberi Mika saran untuk bertanggung jawab pada Alena pah " jawab bu Ratih pelan " tapi pih, sarannya sangat berat untuk Mika " Mika memijat keningnya yang mulai terasa pening " memangnya apa saran mamihmu? " menatap lekat pada Mika " masa Mika disuruh nikah sama Alena sih pih! " gerutu Mika " Mika ingat papih selalu mengajarkan agar kamu bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kau perbuat, papih rasa saran mamihmu cukup adil! " pak Rudy menoleh ke arah Mika " adil pih? Adil buat siapa? Kita tak saling mencintai pih! " sambil tersenyum sinis " pernahkah kau berpikir bagaimana hidup Alena setelah dia kehilangan penglihatannya? Bagaimana dia akan menyesuaikan diri tanpa penglihatan? " pak Rudy bertanya tegas pada Mika hanya terdiam mendengar pertanyaan dari papah nya. " setidaknya menikahlah dengan dia dan buatlah dia bahagia setelah kau menikahinya " menepuk pundak Mika Setelah berbicara pak Rudy mengajak istrinya naik ke lantai atas untuk beristirahat. meninggalkan Mika memberinya ruang untuk berpikir. **** Malam ini Mika memilih menghabiskan waktu di sebuah club malam untuk sekedar menghilangkan penat. Mika hanya duduk menikmati minuman yang dia pesan tampa memperdulikan prempuan yang datang bergantian untuk menggodanya. Abee menghampiri sahabatnya yang terlihat penuh beban itu. Abee duduk di samping Mika kemudian menuangkan minuman kedalam gelasnya. " ada apa Mik? Sepertinya kau sedang banyak pikiran " Abee menyesap cairan dalam gelas " tadi siang orang tuaku menyuruh aku menikahi Alena! " berbicara sambil mengangkat gelas " lalu kau menyanggupinya? " tanya Abee seraya mengangkat gelas juga " belum, aku sedang memikirkannya! " berbicara kemudian menyesap lagi cairan dalam gelasnya " menurutku tak ada salahnya kau menikahinya, sebagai bentuk tanggung jawabmu " Abee setuju dengan saran orang tua Mika " ya mereka juga bilang begitu, tapi kita tak saling mencintai, lagipula aku masih..... " Mika menggantungkan kalimatnya sambil menggoyangkan gelas yang ia pegang " kau masih mengharapkan Retha? Tebak Abee " mungkin " dengan penuh keraguan " sudahlah, sudah saatnya kau memulai awal yang baru dengan orang yang baru ! " menepuk pundak sahabatnya memberi dukungan " mungkin kau benar aku perlu memulai awal yang baru " tersenyum kecut *** Pagi ini Alena merasa bosan hanya diatas tempat tidur, dia memutuskan untuk turun dari ranjang dan akan ke kamar mandi membersihkan diri yang sudah terasa lengket karna hanya diwaslap saja selama dia diatas tempat tidur. Saat Alena sedang turun dari ranjang yang lumayan tinggi karna kaki Alena belum menapak sempurna Alena malah hendak terjatuh dari ranjang. Tepat saat Mika membuka pintu dengan segera Mika berlari dan menahan tubuh Alena. Alena terkejut saat merasa tubuhnya melayang karna digendong oleh Mika. " kamu siapa? " memukul d**a bidang Mika " Kamu mau kemana? " Mika mendudukkan tubuh Alena diatas ranjang " kak Mika? " Alena mengenali suara Mika " ya ini aku, kau mau kemana turun dari ranjang sendirian? " Mika mencolek hidung Alena gemas " aku bosan, dan mau ke kamar mandi sudah ga betah badan lengket semua " jelas Alena mengusap hidungnya yang di colek Mika tadi " Kan bisa minta tolong sama perawat untuk minta bantuan! " Mika duduk di kursi sebelah ranjang " aku butuh belajar sendiri biar tidak menyusahkan orang lain" Alena memberi alasan " baiklah aku akan bantu kamu.kamu mau apa? Mandi? " Mika berdiri dan melinting lengan bajunya bersiap membantu Alena " tidak usah terimakasih, aku sendiri saja" tolak Alena dengan muka tersipu dan jantung yang bedetak tak karuan " sudah ayo aku bantu " segera mengendong Alena menuju kamar mandi " kak Mika aku bisa sendiri, kak Mika turunkan saja aku di dalam kamar mandi oke! " protes Alena tak terima " kau cerewet sekali " komentar Mika dan segera menurunkan Alena " oke terimakasih " ucap alena pelan sambil meraba wastafel mencari keran " kau cari apa? " segera meraih tangan alena " keran kak" tersenyum canggung " keran ada disini" dengan sabar Mika menuntun tangan Alena ke tempat yang benar " kak kau boleh menunggu diluar saja, tidak enak kalau sampai orang lain melihat kita berduaan di kamar mandi! " menyalakan keran air " baiklah, tapi kalau butuh bantuan kau tinggal panggil aku saja oke! " menuruti perkataan Alena Mika memilih berdiri di samping pintu kamar mandi memastikan kalau Alena tetap aman di dalam kamar mandi. Hingga Akhirnya pintu kamar mandi terbuka tanda Alena telah selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN