kesepakatan

1105 Kata
Alena keluar dari kamar mandi dengan sangat hati- hati sambil tangannya meraba dinding disebelahnya. Mika hanya diam memperhatikan saja sementara Alena terus mendekat kearahnya hingga tangan Alena tak sengaja meraba- raba d**a bidang milik Mika. Alena merasa yang dia raba tak seperti tembok malah memukul d**a bidang Mika. Sang pemilik d**a bidang itu hanya bisa mengaduh kesakitan. " aauuhhh " pekik Mika kesakitan " hah, kak Mika kenapa? " tanya Alena tanpa rasa bersalah sementara tangannya masih menempel pada d**a Mika " menurutmu? " tangannya meraih tangan Alena " oh, maaf kak " segera mengangkat tangannya untuk menjauh Sebelum tangan Alena diangkat tangan Mika dengan cekatan menariknya. " kau mau menggodaku ya?huh " membalik tubuh Alena kemudian menyudutkannya ke dinding " bukan begitu kak. Aku tak tahu kalau kau ada disini" berusaha mendorong tubuh Mika yang semakin mendekat " benarkah? " semakin mendekatkan mukanya " benar kak, kau juga tahukan aku tak bisa melihat, jadi wajar kalau aku meraba-raba! " dengan penuh penekanan dan mendorong Mika menjauh " sudahlah ayo " Mika menggendong Alena menuju tempat tidur dan mendudukannya " kak aku bisa jalan sendiri! Aku hanya buta bukan lumpuh! " protes Alena yang terkejut karena digendong oleh Mika " kau banyak protes sekali! " Mika mencubit pipi Alena gemas " ikh kakak Mika " memanyunkan bibirnya " kau sudah sarapan Al? " Mika duduk di kursi sebelah ranjang " sudah tadi, kak Mika tumben datang pagi-pagi. Ada apa? Ga kerja? " Alena memberondong Mika dengan pertanyaan " aku sengaja datang kesini mau jagain kamu, aku cuti kerja! " jelas Mika " wah enak yach jadi bos bisa cuti kapan saja" Alena tersenyum manis " iya dong, kamu mau jadi bos juga? " canda Mika menanggapi ucapan Alena " mau sih kak, tapi aku ga bakat! Hehehe " tertawa lepas " jadilah istriku maka kau akan jadi ibu bos! Bagaimana? " Mika menatap mata Alena degan lekat " Kak Mika lagi melamar aku? " mengerutkan alisnya " anggap saja seperti itu " tersenyum masam " ikh kakak ga romantis deh " canda Alena menanggapi pernyataan Mika " jadi kamu ingin lamaran yang romantis Al? " Mika memancing Alena untuk terus memberi gambaran tentang dream wedding nya " iya dong. Kaya yang di film-film gitu ka! " Alena tersenyum riang sambil bercerita " Al, aku serius akan menikahimu! " menggenggam tangan Alena " kak kau serius akan menikahiku karena kau kasihan padaku? Atau atas rasa bersalah? Jika karena itu lebih baik kau lupakan saja kak " dengan mata mulai mengembun " Al aku tahu kau bukan gadis lemah yang butuh belas kasihan, tapi aku berharap kau akan memberiku kesempatan untuk menebus semua kelalaianku, dengan memberiku kesempatan untuk menjagamu hingga kau sembuh! " Mika berbicara dengan nada serendah mungkin agar tak menyinggung perasaan Alena " tapi kita tak saling mencintai kak! " sela Alena " ya kita memang tak saling mencintai saat ini Al! Kau butuh seseorang untuk menjagamu saat ini, dan seperti yang kamu ketahui orang tuaku sangat berharap kau jadi menantu mereka! " Mika mencoba memberi tahukan alasan dirinya mengajak Alena menikah " setidaknya untuk saat ini menikahlah denganku, setelah kau sembuh dan menemukan lelaki yang kau cintai kau boleh meminta cerai padaku" entah datang dari mana ide gila yang Mika ucapkan Alena hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Mika mencoba mencerna ucapan pria tampan yang menjadi rebutan gadis cantik diluar sana. Menurut Alena perkataan Mika ada benarnya juga saat ini dia butuh seseorang untuk menjaganya, sementara ayahnya juga harus keluar negri untuk mengurus bisnisnya yang sedang kacau. " Beri aku waktu untuk berpikir kak " akhirnya Alena memilih untuk memikirkannya terlebih dahulu " baiklah aku mengerti, segera beritahu aku jika kau sudah membuat keputusan! " seru Mika " ya " Alena menganguk mengerti " kau mau jalan-jalan ke luar? Kau pasti bosankan" Mika berusaha mengusir kegugupan dengan mengajak Alena ke untuk berjalan- jalan. Ya tentu saja Mika gugup karna ini adalah kali pertamanya mengajak seorang gadis untuk menikah. Meskipun hanya karna sebuah bentuk pertanggung jawaban. *** Hari sudah mulai gelap dan Alena sudah terlelap tapi Mika masih setia menemaninya. Hingga akhirnya Abee datang untuk menyerahkan berkas- berkas penting untuk ditanda tangani oleh Mika. " Mik... " Abbe yang baru saja masuk sudah langsung memanggil Mika " ssstttt..... " telunjuk Mika di simpan di bibirnya " ayo kita bicara di luar saja " sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh Alena " oke " Abee segera berbalik meninggalkan ruangan di susul oleh Mika. *** Mika dan Abee kini sudah berdiri di smoking area, menyesap rokok dan segelas minuman kaleng di samping mereka. " aku sudah mengajaknya menikah " Mika membuka percakapan " what? Lalu dia setuju? " Jiwa kepo sang asisten mulai muncul " dia meminta waktu untuk berpikir " jawab Mika sembari menyesap minuman kalengnya " aku penasaran dengan keputusannya, tapi semoga dia bersedia " Abee menatap langit " sepertinya kau senang jika aku menikah! " menoleh ke arah Abee dengan tatapan tajam " ya jelas tuan, jadi aku tak perlu repot mencarikanmu jodoh lagi! " jujur Abee " aku tak pernah menyuruhmu mencarikan ku jodoh! " memicingkan matanya " ya kau memang tak pernah menyuruhku, tapi selama ini ibumu yang selalu menyuruhku mencarikan gadis untukmu " tersenyum kaku " jadi selama ini karna alasan itu kau selalu mengenalkan banyak wanita padaku? " tersenyum masam " ayolah aku dan ibumu hanya tak ingin kau terjebak dalam masa lalu " menepuk pundak Mika " baiklah sekarang kau pulanglah, aku harus kembali ke kamar Alena! " ucap Mika " kau tak pulang? " Abee mengerutkan alisnya bingung " tidak, malam ini aku bermalam di sini " Mika beranjak sambil melambaikan tangannya. " aneh sekali dia, semoga mereka memang berjodoh " Abee bermonolog lalu beranjak pergi Mika membuka pintu kamar rawat Alena dengan perlahan agar tak menggangu tidur Alena. Namun dia terkejut karna Alena tak ada diatas ranjang. " Alena.... " Mika memanggil Alena dengan panik " kak Mika " pintu kamar mandi terbuka " kak Mika belum pulang? " tanya Alena sambil meraba tembok " aku akan tidur disini malam ini " meraih tangan Alena kemudian menuntunnya kembali ke kasur " tapi disini tidak ada kasur kak" mendaratkan pa**** diatas kasur " aku bisa tidur di sofa " menunjuk sofa di pojok ruangan " kakak yakin " mengangkat kaki naik keatas ranjang " ya " menyelimuti Alena " terimakasih " Alena tersenyum manis " terimakasih untuk? " menata bantal untuk Alena " hari ini kakak sudah menemani aku " merebahkan diri " sama- sama, sudahlah cepat tidur lagi " menbetulakan selimut " ya kakak juga tidurlah " mulai memejamkan matanya " baik tuan putri " segera menuju sofa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN