Dilamar

1085 Kata
Hari ini adalah hari kepulangan Alena dari Rumah sakit setelah 10 hari Alena menjalani perawatan. Di rumah keluarga Widodo sedang sibuk mempersiapkan acara penyambutan dibantu oleh 3 orang pelayan dari keluarga Atmaja. Mika sudah memberi tahu kedua orang tuanya, dia setuju akan menikahi Alena dan melamarnya saat dia pulang dari Rumah sakit. Mamihnya sangat antusias mendengar kabar Mika akan melamar Alena sampai ikut mempersiapkan semua keperluan untuk hari ini. Bi Ida sibuk memasak makanan kesukaan Alena di dapur. *** Tiba saatnya Alena sampai di rumah semua orang sudah menunggu di depan pintu masuk utama siap menyambut kedatangan Alena. Sementara Alena di gandeng oleh pak Widodo masuk tak lupa mang ujang mengekor dibelakang mereka membawa semua barang bawaan. Mika, Abee, bu Ratih, pak Rudy tersenyum senang menyambut kedatangan mereka. " selamat datang kembali Alena " ucap mereka kompak " waw, disini rame sekali pih " seru Alena terkejut " iya mereka semua menyiapkan kejutan buat kamu sayang! " jawab pak Widodo membelai rambut Alena lembut " kejutan? apa? " tanya Alena penasaran " masuklah " pak Widodo mengajak Alena kembali berjalan " aku jadi penasaran pih " semangat Alena " sabar nanti juga kamu akan tahu " mengelus punggung tangan Alena Ada rasa haru dalam benak pak Widodo melihat semua orang yang menyambut kepulangan putri tunggalnya itu. Masih banyak orang yang sayang pada putrinya selain dirinya sendiri. Dia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti pak Rudy yang selalu mendukungnya saat dia terpuruk. Tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Mereka mengobrol dan makan bersama. Saat mereka tengah berkumpul di ruang keluarga setelah selesai makan malam dan berbincang- bincang. terdengar alunan suara biola yang sangat indah. Setelah musik selesai Mika berdiri. " ekkhmm " berusaha mengusir kegugupan " selamat malam semua " sapa Mika dengan senyum menawannya " selamat malam " jawab mereka kompak " malam ini ada yang ingin saya sampaikan kepada Alena " Mika berjalan mendekati Alena yang sedang duduk dekat ibunya " malam ini saya akan menyampaikan maksud lain dari acara kejutan ini " Mika berlutut di hadapan Alena " Al, maukah kau menikah denganku? " ucap Mika yang berlutut membuka kotak yang berisi cincin berlian Alena mengingat kembali kesepakatan diantara mereka tempo hari saat Mika mengajaknya menikah dan dia meminta waktu untuk berpikir. Hari ini akhirnya Alena harus memberikan jawabanya di hadapan orang tua Mika dan papahnya. Sementara Abee hanya tersenyum kagum melihat aksi sahabatnya itu. Tak menyangka dia akan seberani ini. " Wah, Mika keren sekali berani melamar anak orang di hadapan ayahnya dan kedua orang tua dia! " ucapnya dalam hati Sementara kedua orang tuanya dan papahnya Alena hanya tersenyum penuh harap menunggu jawaban dari Alena. Bi Ida mengintip dari dapur karena penasaran juga dengan jawaban Alena. "Wah, non cepet di jawab dong. Kasihan itu tuan ganteng nungguin " ucap bi Ida geregetan cukup lama Alena terdiam seakan sedang mencari jawaban yang tepat untuk Mika. Mika masih setia berlutut menunggu jawaban dari gadis di hadapannya itu. " mmm...kakak serius mau nikah sama aku? " bertanya hati- hati untuk memastikan ucapan Mika " ya , aku serius Al! " jawab Mika tegas " Baiklah aku bersedia menikah dengan kakak! " akhirnya Alena menerima lamaran Mika " akhirnya mamih akan punya menantu pih! " seru bu Ratih sambil menepuk lengan pak Rudy saking senangnya " ya mih " pak Rudy tersenyum senang " akhirnya papih bisa tenang ninggalin kamu keluar negri nak, karena kamu akan ada yang menjaga selama papih di luar negri! " ucap pak Widodo menyeka air mata bahagia yang tak dapat ia bendung lagi Di dapur bi Ida ikut menangis haru karna Alena akhirnya menerima pinangan si tuan CEO ganteng itu. Bagaimana pun Alena sudah seperti putrinya sendiri jadi dia ingin Alena bahagia meskipun sekarang tak dapat melihat. " baiklah, kalau kau menerima pinanganku. Kau harus memakai ini " mengambil cincin dalam kotak " ya " mengulurkan tangan " sudah " memakaikan pada jari Alena " terimakasih kak " Alena tersenyum sambil meraba cincinnya " lalu kapan kalian akan menikah? " tanya pak Rudy " sesegera mungkin pih " jawab Mika mantap " bagaimana kalau minggu depan saja " jawab pak Widodo tak sabar " tapi kita belum menyiapkan apapun mas! " bu Ratih perotes " Minggu depan bagaimana Al? Kau siap? " tanya Mika pada calon istrinya " baiklah, tapi kita cukup akad saja dan mengundang keluarga besar saja! " Alena setuju hanya melakukan akad nikah saja " loh, kenapa Al? " tanya Bu Ratih " Mih aku setuju dengan Alena, lagi pula Alena baru saja sembuh aku takut kalau kita mengadakan pesta sekarang Alena akan drop kembali! " mencoba memberi penjelasan yang masuk akal " baiklah, tapi bagamana dengan papih dan mas Widodo? Apakah kalian setuju? " menatap mereka secara bergantian " kita ikuti saja kemauan mereka mih, lagi pula Mika benar. Kita bisa mengadakan pesta nanti setelah mereka siap! " pak Rudy menyetujui pendapat anaknya " aku juga setuju dengan mereka, pestanya nanti saja setela aku pulang dari luar negri! " tersenyum girang " oke, baiklah kita sudah sepakat minggu depan kalian akan menikah " seru bu Ratih Alena tak pernah mengira akan dipinang oleh pria tampan yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Demikian juga dengan Mika ia tak pernah menyangka akan melamar gadis kecil yang selalu dia anggap adiknya itu. Karena hari semakin larut akhirnya keluarga Atmaja pamit pulang. Alena dibantu oleh Bi Ida menuju kamarnya. Dengan sabar bi Ida menuntun Alena menaiki setiap anak tangga. " selamat ya non, atas pertunangannya! " bi Ida tersenyum tulus meskipun Alena tak dapat melihat tapi Alena pasti bisa merasakannya " iya bi, terimakasih " ucap Alena " semoga kalian jodoh dunia- akherat! semoga kelak Pernikahan kalian langgeng! " bi Ida sambil mengangkat tangan seperti orang yang sedang berdoa " amin " jawab Alena tersenyum masam " sudah sampai non, bibi tinggal dulu ya. Kalau non Al butuh sesuatu tinggal panggil saja ya " jelas bi Ida setelah sampai kamar alena " baiklah, bi terimakasih dan maaf aku akan merepotkan bibi mulai sekarang " Alena menunduk " non ga boleh bicara seperti itu, ini sudah menjadi tanggung Jawab bibi. Yang penting non Al harus cepet sembuh " mengelus alena penuh kasih sayang " terimakasih bi " ucap alen " iya non sama- sama " ucap bik Ida Kemudian bik Ida meninggalkan Alena dalam kamar. Alena merebahkan diri dikasur pikirannya melayang mengingat kembali perlakuan Mika selama di Rumah sakit setidaknya Mika punya sedikit tanggung jawab pada dirinya. " semoga keputusanku menerimanya adalah keputusan yang tepat" Alena membalikan badannya kemudian memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN