Teragedi Alena

1142 Kata
Alena kini telah sampai di kediaman keluarga atmaja setelah tadi dijemput oleh mika.dia disambut hangat oleh bu Ratih. " Al ayo sini masuk" sambut bu Ratih di depan pintu utama " iya terimakasih tante" jawab Alena sopan sambil menyalami bu ratih " Anggap aja dirumah sendiri ya" mengiring Alena menuju ruang tamu " Mih Mika ke atas dulu " pamit Mika " Loh kamu temenin dulu Al dong Mik!ga sopan banget sih" bu Ratih menahan mika yang hendak naik tangga " Tapi mih..." belum sempat Mika protes bu Ratih sudah menjawab " Ga ada tapi tapian Mik, temani Al dulu mamih mau kedapur dulu" mendudukan Mika di atas sofa " Oke oke " pasrah Mika " Tante bagaimana kalau aku bantuin tante aja di dapur" Alena mencari alasan agar tak berduaan dengan Mika " Tapikan kamu tamu disini Al" kembalikan badan menghadap Alena " Ga apa-apa tan aku juga biasa bantuin masak dirumah " kekeuh Alena " Ya sudah ayo kita ke dapur" menggandeng tangan Alena Alena dan bu Ratih pergi meninggalkan Mika di ruang tamu sendirian. " Gadis menarik" gumam Mika sambil tersenyum *** Saat acara arisan bu Ratih mengenalkan Alena sebagai calon menantunya membuat Alena hanya bisa tersenyum canggung. padahal dia ingin sekali protes tapi takut akan melukai hati bu Ratih. Hari sudah mulai sore acara pun telah selesai Alena pamit pulang pada bu Ratih. " Tanteu aku pamit pulang dulu ya sudah sore" Alena mendekati bu Ratih " Tapi masih hujan Al" menunjuk keluar rumah " Ya sudah tapi kamu diantar Mika ya!" perintah bu ratih sambil melirik Mika " ya sudah ayo aku antar Al" segera bangkit dari duduknya " Ga usah kak, aku naik taksi online saja" tolak Alena " Mika aja Al tadikan Mika yang jemput jadi sekarang Mika yang anter ya! " bujuk bu Ratih Alasan Alena selalu menolak untuk bersama Mika adalah karna tatapan Mika yang selalu terlihat dingin dan tak suka padanya. sehingga dia lebih memilih menghindar dari mika.ntapi entah ada angin apa kali ini Mika menawarkan diri ingin mengantarnya. " Tumben si muka datar ini mau anterin aku pulang " batin Alena " Kamu dianterin Mika aja ya Al" tawar bu Ratih lagi " Baik tanteu" akhirnya Alena setuju " Ya sudah yuk sekarang" ajak Mika berjalan meninggalkan bu Ratih " Ya " mengekor di belakang Mika *** Dalam perjalan pulang Alena dan Mika sama-sama diam tak bersuara. " Maaf " suara bariton mika memecah keheningan diantara mereka " Maaf? untuk? " Alena memberanikan diri menoleh kearah Mika hingga netra mata mereka bersitatap. " Atas ucapan mamihku yang membutmu tak nyaman saat acara arisan tadi" Mika menjelaskan maksud perkataannya dengan menatap mata Alena serius " Tak apa kak mika" ucap Alena dengan senyuman terukir dibibirnya " Terimakasih Al" ucap mika dengan tersenyum juga Selama kenal dengan Mika baru kali ini Alena melihat Mika tersenyum tulus seperti sekarang. biasanya dia selalu memasang wajah datar dan tatapan dingin saja. Hujan lebat membuat Mika sedikit kesulitan melihat jalanan saat mengemudi, langit juga sudah gelap semakin membatasi pandangan mata Mika. saat hendak berbelok Mika tak menyadari dihadapannya ada mobil berlawanan arah dengannya sehingga Mika membanting setir untuk menghindari kecelakaan. tapi nahas nasib buruk tetap berpihak pada mereka. " Kak mika awas ada pohon" teriak Alena BBBRUUKKK Mobil Mika kehilangan kendali dan menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan. dengan setengah sadar Mika mengecek kondisi Alena yang ternyata sudah tak sadarkan diri akibat terbentur dasboard mobil. sekuat tenaga Mika berusaha membangunkan Alena namun dia tak merespon. "Alena....Al...Al bangun Al!!!!" Mika berteriak histeris "Tollllonng!!!" Mika berteriak mencari bantuan Tak butuh waktu lama para warga berdatangan untuk menolong mereka. mereka segera di larikan kerumah sakit. **** Dalam perjalanan menuju RS Mika memandangi Alena yang masih terbaring tak sadarkan diri. ada rasa bersalah yang menjalar dihati Mika. " Al tolong segera sadar dan maafkan aku" ucap Mika sembari menggenggam tangan Alena Setelah sampai RS Alena segera di bawa ke IGD untuk mendapat pertolongan. " Alena kamu harus kuat, kamu harus segera sadar" ucap Mika sebelum melepas genggaman tangannya. Alena dibawa masuk oleh para petugas medis sementara Mika harus tetap menunggu di luar ruangan. dengan hati cemas Mika terduduk lesu. dia merogoh saku celananya mengambil ponselnya untuk menghubungi keluarganya dan ayahnya Alena juga Abee sang asisten. Satu jam kemudian bu Ratih, pak Rudy dan pak Widodo datang menuju ruang IGD. mereka segera menghampiri Mika yang masih duduk dengan luka di bagian pelipis kanannya. " Mika bagiamana keadaan Alena? " pak Widodo bertanya sembari menangis mencemaskan keadaan anak semata wayangnya " Masih di dalam om" menunjuk ruang IGD " Semoga Alena baik-baik saja Wid, lebih baik kita berdoa untuk alena" pak Rudy menguatkan pak Widodo " Maafkan saya om, kalau saja saya lebih hati-hati kami tak akan mengalami semua ini" Mika menunduk meminta maaf pada pak Widodo " Ini bukan salahmu nak, kecelakaan Ini musibah untuk kita semua" pak Widodo menepuk punggung Mika menenangkan Sementara bu Ratih hanya bisa menangis setelah mendengar anaknya dan Alena mengalami kecelakaan.bu Ratih Menatap putranya yang tampak kacau. " Nak kau juga terluka, kenapa tidak diobati! " bu Ratih memeriksa luka di kening Mika " Ini tidak seberapah mih" menyentuh lukanya yang masih terbuka dengan darah yang sudah mengering karna dibiarkan " lebih baik kau obati dulu lukamu nak! biar kami yang menunggu Alena disini" perintah pak Rudy tak tega melihat anaknya yang juga terluka " Baiklah " Mika segera mencari suster untuk meminta mengobati lukanya Sementara Mika pergi dokter yang dari tadi menangani Alena keluar untuk memberi tahukan kondisi Alena. " Keluarga saudari Alena" Panggil sang dokter " Ya dok, bagaimana kondisi putri saya dok? " pak Widodo segera mendekati dokter " pak pasien harus segera dilakukan tindakan oprasi, karna pasien mengalami luka cukup serius pada bagian mata. ada serpihan kaca yang mengenai mata pasien dan akibat mengalami benturan yang cukup keras mengakibatkan tarauma pada matanya" dokter menjelaskan keadaan Alena saat ini " Segera lakukan yang terbaik untuk putri saya dok " pak Widodo menangkupkan kedua tangannya di depan d**a pertanda sedang memohon pertolongan dokter. " Baik pak. sebaiknya bapak segera ke bagian administrasi untuk mengurus semua prosedurnya" setelah selesai berbicara dokter masuk kembali ke ruang UGD Pak Widodo segera menuju ruang administrasi untuk mengurus semua prosedur oprasi Alena meninggalkan sepasang suami istri yang masih bersedih mengetahui kondisi Alena. " Pih, bagaimana ini? " bu Ratih bertanya pelan dengan air mata terus mengalir di kedua matanya " Sudahlah mih, nanti kita bicarakan ini dirumah dengan mika" pak Rudy menggenggam tangan istrinya " Tapi pih... Alena...." bu Ratih tak kuat meneruskan ucapannya hanya bisa menangis sesegukan " Yang terpenting sekarang kita berdoa saja supaya Alena bisa cepat pulih mih. untuk yang lainnya kita bicarakan nanti setelah kita tenang" memeluk istrinya dengan hangat. Alena memang bukan anak mereka tapi mereka sudah menganggap dia seperti anak mereka sendiri jadi apa yang terjadi pada Alena merupakan tanggung jawab bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN