Fajar kembali menyingsing di Jakarta. Kali ini, kabut bukan hanya berasal dari sisa asap mesiu, tetapi dari ribuan dapur darurat yang menyala di setiap sudut jalan. Aroma bubur sederhana bercampur dengan udara lembap, memberi sedikit kehangatan pada perut-perut kosong yang bertahan dengan sisa tenaga. Erika berdiri di depan sebuah pos logistik darurat di Senayan. Matanya sayu, tapi penuh tekad. Sejak robohnya Xavier seminggu lalu, ia hampir tak pernah tidur lebih dari dua jam sehari. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru semakin gelisah. Di hadapannya, seorang ibu muda dengan bayi di gendongan mengulurkan tangan, mengambil sekantong beras. “Terima kasih, Mbak. Semoga Tuhan jaga kalian.” Erika hanya tersenyum singkat. Hati kecilnya merasa getir. Apa yang ia berikan hanyalah setetes air

