Bab46

1379 Kata

Fajar menyibak kabut Jakarta dengan perlahan. Dari lantai empat puluh gedung tempat Xavier menghembuskan napas terakhir, cahaya matahari menembus kaca pecah, memantul di genangan darah yang mulai mengering. Udara masih berbau mesiu, asap, dan besi karat—aroma yang mengingatkan bahwa kebebasan tidak pernah lahir tanpa korban. Erika berdiri membisu di dekat jendela. Sorakan rakyat dari kejauhan masih terdengar, bergemuruh bagai ombak yang menghantam karang. Tangannya masih terasa dingin, bekas getaran saat ia menarik pelatuk beberapa menit lalu belum sepenuhnya reda. Ia baru saja menumbangkan naga, tapi hatinya justru terasa kosong. Di belakang, Sari berusaha menghentikan darah yang keluar dari bahu Jona. “Tahan sedikit lagi, Jo. Ambulans rakyat sudah bergerak ke arah sini. Aku janji, kau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN