Bab45

1341 Kata

Langit Jakarta tetap hitam, nyaris tanpa bintang. Jam menunjuk pukul 03.15 dini hari, dan di bawah kegelapan itu, gudang tua di dekat rel kereta menjadi titik awal perjalanan menuju jantung naga. Erika berdiri paling depan, tubuhnya tegang namun matanya menyala. Di belakangnya, Alvaro, Jona, dan Sari menyelesaikan persiapan terakhir. “Waktu kita sempit,” kata Jona, sambil memasukkan pistol ke dalam sarungnya. “Kalau Xavier benar-benar melepas dua batalyon bayaran, Senayan bakal jadi neraka dalam waktu sejam.” “Makanya kita harus potong kepalanya sebelum matahari terbit,” balas Alvaro, suaranya berat namun mantap. Luka di lengannya masih belum benar-benar kering, tapi ia menolak berhenti. Sari menutup laptop, memasukkannya ke dalam tas ransel. “Aku sudah susun jalur cadangan. Kalau listr

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN