Bab44

1136 Kata

Jakarta dini hari itu seperti kota dari neraka. Api membakar jalan-jalan protokol, kaca pecah berserakan di trotoar, bau bensin bercampur darah, dan udara dipenuhi jeritan. Namun di tengah semua kekacauan itu, ada sesuatu yang berbeda—api dalam d**a rakyat justru semakin berkobar, tidak padam meski peluru beterbangan. Di Senayan, ribuan manusia sudah berubah menjadi samudera yang bergerak satu arah. Dari atap gedung rendah, spanduk kain lusuh bertuliskan “Rakyat Bersatu, Naga Tumbang” berkibar ditiup angin panas. Suara toa bersahut-sahutan, memandu lautan manusia agar tidak tercerai berai. Di antara mereka, wajah-wajah muda dengan mata sembab, para pekerja dengan tangan kapalan, emak-emak dengan kerudung kusut, bahkan anak-anak kecil yang menempel erat di pelukan ibunya. Semua menjadi ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN