Malam Jakarta belum pernah sekelam ini. Api berkobar di tiap sudut kota, sirene dan raungan manusia berbaur jadi satu simfoni kacau. Langit hitam seperti terbelah oleh kilat, namun bukan hujan deras yang turun kali ini—melainkan amarah yang sudah terlalu lama dipendam rakyat. Di jalanan Senayan, suara “REVOLUSI!” menggema berulang, semakin keras, semakin berlapis, hingga seakan bumi sendiri ikut bergetar. Ribuan orang melompat, menangis, merangkul, atau meninju udara. Rekaman Xavier yang bocor barusan tak hanya jadi bukti, tapi jadi bahan bakar bagi api yang sudah menyala. Ridho masih berdiri di atas kap mobil. Luka di bahunya makin parah, darah mengalir, tapi ia seperti tak merasakannya. Matanya memandang massa yang membesar. “Kita sudah mulai… jangan berhenti sekarang!” serunya, meski

