Malam merambat pelan, tapi Jakarta tidak mengenal gelap. Api membakar ban di persimpangan, lampu jalan berkelip samar, sirene meraung tanpa henti. Di udara, helikopter berputar-putar seperti burung besi yang mengawasi mangsanya. Namun di bawah, lautan manusia justru semakin membesar. Dari tiap gang, tiap jalan kecil, orang-orang datang membawa tubuh dan suara mereka. Di atas kap mobil, Erika menatap pemandangan itu. Tangannya bergetar, bukan karena takut, tapi karena sadar: inilah titik yang tidak bisa ia tarik kembali. Alvaro menepuk bahunya pelan. “Rika. Kalau kita mau bergerak ke gedung kementerian, waktunya sekarang. Aparat masih sibuk nahan massa di depan sini. Kalau kita tunggu besok, mereka bakal perkuat barisan, dan peluang masuk hilang.” Sari, yang masih mengetik di laptop, men

