Hujan yang sejak dini hari mengguyur Jakarta kini berubah jadi gerimis tipis, seolah langit pun ikut menyaksikan apa yang sedang terjadi di bumi. Jalan-jalan utama menuju Senayan berubah menjadi sungai manusia. Bukan hanya mahasiswa yang bertahan, tapi juga buruh, emak-emak pedagang, bahkan sopir ojol. Mereka datang karena satu hal kebenaran yang baru saja terbuka lebar, meledak dari server Sari ke seluruh dunia. Di layar-layar ponsel yang beredar cepat, wajah pejabat, nomor rekening luar negeri, hingga rekaman suara transaksi gelap terpampang tanpa bisa ditutupi. Tagar-tagar berubah arah, bukan lagi sekadar “Mahasiswa Anarkis”, tapi “Xavier Sang Naga”, “Negeri Dijual”, “Kebenaran Tak Bisa Dibunuh”. Erika berdiri di atas kap mobil putih yang sudah berkarat. Rambutnya berantakan, wajahnya

