Bab40

1196 Kata

Hujan tipis masih mengguyur, membuat jalanan licin dan berkilau di bawah lampu jalan yang temaram. Namun kota tidak pernah benar-benar sepi. Sirene masih terdengar di kejauhan, kadang bercampur dengan teriakan yang pecah dari sudut-sudut jalan. Asap gas air mata menggantung rendah di udara, menyisakan bau pedih yang menempel di paru-paru. Di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggir kampung, Erika, Alvaro, Sari, Jona, dan Ridho duduk melingkar. Wajah mereka penuh lelah, namun api yang sama menyala di mata mereka tahu babak baru sudah dimulai. Erika berdiri, suaranya bergetar tapi tegas. “Besok pagi, aku akan turun ke jalan. Aku harus ada di sana. Kalau rakyat berjuang dengan tubuh, aku nggak bisa sembunyi di balik layar. Mereka harus tahu aku nyata, bukan sekadar nama di media sosial.”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN