Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, tapi malam itu, kota ini terjaga bukan karena gemerlap lampu atau musik klub malam, melainkan karena kecemasan. Jalan-jalan besar dipenuhi kawat berduri dan kendaraan taktis, sementara lorong-lorong kecil menjadi jalur rahasia tempat mahasiswa, jurnalis independen, dan warga biasa berbagi kabar. Warung kopi jadi markas darurat, masjid jadi tempat beristirahat para demonstran, dan media sosial menjadi medan perang yang lebih bising daripada jalanan. Di layar ponsel orang-orang, dua dunia beradu. Video Xavier yang mengaku “kebenaran bisa mati” diputar ulang berkali-kali. Di sisi lain, ribuan akun buzzer menyebarkan narasi. Erika agen asing, mahasiswa dibayar, rekaman palsu. Warga sipil bingung. Sopir angkot di Terminal Kampung Melayu berdebat sengi

