Hujan dini hari masih membasahi Jakarta. Jalan-jalan yang biasanya padat kini dipenuhi asap, bau mesiu, dan jejak ban mobil yang terburu-buru melarikan diri. Dari ketinggian, kota itu tampak seperti luka besar yang menganga: lampu-lampu jalan berpendar samar di balik kabut hujan, sementara sirene polisi dan teriakan massa menyatu menjadi simfoni kacau. Di sebuah rumah tua di pinggiran kampung Jakarta Timur, Erika duduk bersandar di dinding. Bajunya basah, rambutnya berantakan, tapi matanya menyala—bukan lagi sekadar ketakutan, melainkan keyakinan. Alvaro menutup pintu dengan cepat, memastikan palang kayu terpasang. Sari menaruh laptopnya di atas meja reyot, kipasnya berdengung keras, layar penuh dengan notifikasi pesan masuk. Jona, dengan wajah masih tegang, berdiri di dekat jendela samb

