Suara sirene meraung bersahut-sahutan, seperti serigala lapar yang baru saja menemukan mangsa. Jalanan di depan Hotel Mandarin berubah menjadi lautan manusia: mahasiswa, polisi, aparat bersenjata, dan bayangan hitam SUV-SUV milik Xavier yang melaju ganas. Hujan tipis yang sejak sore mengguyur Jakarta berubah jadi deras, membasahi poster-poster karton basah di tangan mahasiswa, menempelkan tulisan “TANGKAP XAVIER” ke tubuh mereka. Gas air mata ditembakkan. Asap putih menelan jalanan, orang-orang berlarian sambil menutup wajah dengan kain basah. Tapi teriakan tetap terdengar. Teriakan yang lebih keras dari ledakan apa pun: “ERIKA TIDAK SENDIRI!” Mobil sewaan yang ditumpangi Erika, Alvaro, Sari, dan Jona melaju zigzag, mencoba menembus kerumunan. Lampu merah berkedip, klakson bersahut-sahut

