Malam meneteskan hujan tipis di Jakarta, seperti tirai kabut yang menutupi luka kota. Lampu jalan berpendar kuning pucat, membias di aspal basah. Suara klakson, motor yang ngebut, dan teriakan penjual makanan di pinggir jalan masih terdengar, seakan kehidupan tetap berjalan normal. Tapi di balik semua itu, ada jantung yang berdegup tak terkendali. Erika duduk di kursi reyot, di sudut posko mahasiswa. Di depannya, sebuah cermin retak berdiri, memantulkan wajahnya yang pucat dan mata bengkak karena kurang tidur. Tangannya gemetar ketika ia merapikan rambutnya, berusaha memberi kesan kuat, meski hatinya berantakan. Sari mendekat, menaruh sebuah alat kecil di meja. “Mic rekaman. Ukuran mini. Tempel di kancing baju. Suara sejernih kaca. Kalau dia ngomong sesuatu, dunia bakal denger.” Erika m

