Bab48

1116 Kata

Fajar kembali menyingsing di atas Jakarta, namun hari ini ia tampak berbeda—lebih pucat, lebih ragu, seolah bahkan matahari pun sedang menimbang apakah ia ingin menyinari kota yang masih berbau darah semalam. Awan kelabu menggantung rendah di atas hamparan reruntuhan pelabuhan Priok, memantulkan nyala-nyala kecil dari api yang masih membara di beberapa sudut. Bau logam, garam, dan asap bercampur menjadi satu, menempel di udara seperti peringatan. Erika berdiri di balkon lantai dua gedung kosong yang kini menjadi pos penjagaan sementara. Tangannya membungkus cangkir enamel yang sudah penyok. Di dalamnya, kopi instan yang terlalu encer berkabut tipis, tapi hangatnya cukup untuk membuat jarinya yang kaku sedikit hidup. Di bawah sana, puluhan relawan membereskan sisa-sisa bentrokan semalam. M

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN