Ketika mereka tiba, perangkat radio portabel berderak pelan, terganggu interferensi. “…rika… jika kau dengar… jangan—” Erika mendekat, menekan tombol. “Alvaro! Ini Erika! Di mana kau?” Suara itu kembali, semakin rusak. “…jebak… jangan percaya… seseorang di dewan… bukan yang kau kira…” “Siapa? Alvaro, siapa yang mengkhianati kita?!” Hanya suara statis yang menjawab. Lalu satu kalimat terakhir, lirih namun jelas: “Kau dalam bahaya.” Radio mati sepenuhnya. Erika terdiam, wajahnya pucat. Di sekelilingnya, semua menatapnya menunggu keputusan. Sari menelan ludah. “Apa yang kita lakukan sekarang?” Erika memejamkan mata. Kalimat-kalimat semalam berputar di kepalanya: Naga tidak pernah mati. Kalau naga baru lahir… patahkan sayapnya. Janji, Var? Janji. Ia membuka mata. Dan kali in

