Bab50

1139 Kata

Angin dari Teluk Jakarta berembus kencang malam itu, membawa aroma garam dan solar, menyelinap sampai ke tenda komando tempat Erika berdiri terpaku memandang peta. Hujan memang mereda, tetapi badai yang lain—badai yang tidak terlihat—sedang tumbuh diam-diam di sisi kota yang jarang ditengok orang. Di belakangnya, Sari mengatur radio dan dokumen, sesekali melirik Erika yang sejak kembali dari gedung kosong itu tampak lebih diam… namun lebih berbahaya. “Rik,” panggil Sari pelan. “Apa kau yakin tidak mau istirahat? Sudah hampir tengah malam.” “Kau bisa tidur,” jawab Erika tanpa menoleh. “Aku tidak bisa.” Sari menggigit bibir. Ada perubahan dalam cara Erika bicara—lebih terukur, lebih dingin. Tapi ada juga kobaran yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, seolah seseorang telah menghidupkan a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN